|
“Saya ingin menjadi seperti biji kopi, tidak mau seperti wortel atau telur”, ungkap Sri Aswati, District Trainer PKn Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Dengan sepeda motor tuanya, guru SMP 1 Sedati ini setia mengunjungi guru-guru dan sekolah dampingannya yang tersebar di Sidoarjo.
“Saya pingin melakukan kunjungan tindak lanjut ke semua guru yang sudah saya latih, saya nggak enak kalau kunjungan ke sekolah mitra saja. Nggak apa-apa kalaupun nggak ada biaya transportnya. Yang penting saya dibuatkan surat tugas sama DBE 3” tambah Sri Aswati.
Sri Aswati mengaku bersemangat memperkenalkan materi DBE 3 ke banyak guru karena diilhami filsafat wortel, telur dan biji kopi. Filsafat ini ia ketahui dari pelatihan becoming effective facilitator yang diadakan DBE 3. Dijelaskannya ketika dimasukkan ke dalam air mendidih wortel yang keras akan menjadi lunak, telur yang lembut akan menjadi keras, tetapi biji kopi akan menghasilkan aroma yang harum dan kopi yang nikmat.
Sri Aswati menambahkan bahwa air yang mendidih adalah ibarat persoalan kehidupan. “Kita bisa menjadi seperti wortel: mulanya kuat tetapi kemudian menjadi lemah. Atau kita juga bisa menjadi seperti telur: lemah lembut pada awalnya namun menjadi keras hati dan tidak berperasaan pada akhirnya,” jelas Sri Aswati.
“Namun yang paling baik adalah menjadi seperti kopi. Air mendidih tidak mampu mengubah kopi, sebaliknya kopi yang mengubah air menjadi cairan yang harum. Semakin panas airnya semakin nikmat rasanya.”
Sri Astuti menambahkan, “Kita dapat menjadi seperti biji kopi: membuat sesuatu yang indah dari kesukaran yang kita hadapi. Kita belajar sesuatu, mendapat pengetahuan baru, keterampilan baru dan kemampuan baru. Kita tumbuh bersama pengalaman, dan kemudian membuat dunia sekeliling kita menjadi lebih indah. Itulah keinginan saya bagi dunia pendidikan,“ jelas Sri Aswati.
Dengan bermodal surat tugas dan keinginan membuat dunia pendidikan lebih indah, perempuan 47 tahun ini mendampingi 10 sekolah di luar mitra DBE 3.
“Memang berat merubah paradigma mengajar guru-guru sekarang, tapi saya akan sangat senang kalau mereka sudah mengenal materi DBE 3 dan timbul semangat belajar yang luar biasa,” ungkap Sri Aswati.
|
|
“Namun yang paling baik adalah menjadi seperti kopi. Air mendidih tidak mampu mengubah kopi, sebaliknya kopi yang mengubah air menjadi cairan yang harum. Semakin panas airnya semakin nikmat rasanya.”
|
Dalam perjalanannya mendampingi guru-guru di luar sekolah mitra, Sri Aswati mendapatkan sambutan yang luar biasa. Bersama dengan District Trainer lainnya, Sri Aswati berhasil mengorganisir guru-guru di luar sekolah mitra untuk dilatih modul DBE 3 secara mandiri.
Dalam konteks program pendidikan dasar yang terdesentralisasi, hal ini adalah wujud nyata dari desentralisasi pendidikan. Dalam konteks ini, Sri Aswati memiliki kemandirian dan tidak bergantung pada instruksi dan pembiayaan pemerintah.
Sampai saat ini DBE3 Jawa Timur telah mencatat 3 replikasi program yang murni muncul dari keinginan guru dan pihak sekolah. Pada bulan Februari 2007 SMP 2 Gedangan mereplikasi pelatihan DBE 3.
Pada bulan Desember 2007 kolaborasi guru – guru SMP 1 Porong, SMP 3 Porong dan SMP 2 Sedati Sidoarjo melakukan workshop penerapan pembelajaran kontekstual melalui replikasi ICARE yang mampu secara masif mengenalkan dan merubah mindset berbagai metode pembelajaran DBE 3.
Program DBE 3 di Sidoarjo, Jawa Timur, saat ini sedang meretas ke tahap yang dicita-citakan. Bersama dengan para DT tim DBE3 terus berupaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Peran serta individu-individu yang mandiri seperti Ibu Sri Aswati tentu saja akan membantu terciptanya pendidikan yang berkualitas bagi anak-anak di Jawa Timur. (Adi-Sidoarjo).
|