HOME:HALAMAN UTAMA
  Berita DBE EDISI 1
 Berita & Artikel
 Informasi Baru
 Mengenai Kami
 100 Kunjungan Terakhir
  

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  

 Meet and Greet

Halaman 3 


  Stuart Weston, CoP DBE3

DBE3 baru saja memiliki Chief of Party (CoP) yang baru. Pimpinan baru DBE3 ini adalah Stuart Weston yang mulai bekerja pada 1 November 2008. Pak Stuart – panggilan sehari-hari Stuart Weston – berasal dari UK dan sudah berpengalaman bekerja di sektor pendidikan selama lebih dari 17 tahun.

Setelah bertemu dengan seluruh staf DBE3 di Indonesia pada pertengahan November 2008, Pak Stuart melanjutkan dengan kunjungan ke lapangan. Ia telah mengunjungi tiga provinsi yaitu Sumatra Utara (Binjai), Jawa Tengah (Demak) dan Jawa Timur (Surabaya) untuk melihat secara langsung implementasi DBE3 di sana. Menghadapi tantangan yang akan datang, Pak Stuart mengatakan bahwa ia optimis program DBE3 akan berjalan lancar.


Refokus DBE3 Untuk SMP and MTs

Sesuai kesepekatan dengan USAID, DBE3 akan melakukan refokus pada kegiatannya. Selama ini DBE3 telah bekerja di sektor non formal dan formal (pada sektor formal DBE3 bekerja sama dengan SMP dan MTs).

Kesepakatan dengan USAID ini dicapai sebagai hasil dari evaluasi yang dilakukan pada awal 2008.

Dokumen evaluasi merekomendasikan intervensi yang lebih intensif untuk tingkat sekolah untuk meningkatkan dampak dari proyek. Sebagai konsekuensinya, DBE3 akan mengimplementasikan program ekstensi di beberapa kabupaten mitra.

Program ini akan melibatkan pelatihan guru untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, IPA dan IPS.

Hal ini karena DBE3 mempunyai tim yang kuat yang memiliki komitmen tinggi untuk bekerja di sektor pendidikan. Kehadiran Pak Stuart yang berpengalaman menambah motivasi awak DBE3 untuk melanjutkan programnya. Selamat bergabung, Pak Stuart!

Pak Stuart Weston

Stuart Weston (kiri), CoP DBE3 yang baru, sedang memberikan presentasi pada pertemuan DBE3 di Jakarta.



Aktifitas ini juga akan melibatkan kepala sekolah dan pengawas sekolah serta pejabat pemerintah daerah dalam rangka membangun visi yang sama mengenai peran masing-masing pihak.

Sayangnya, karena keterbatasan sumber daya, program ekstensi dibatasi hanya untuk 25 kabupaten saja. Kabupaten tersebut dipilih melalui beberapa kriteria, termasuk keinginan untuk menjalankan program, hasil yang telah dicapai selama ini dan komitmen kabupaten untuk melanjutkan program DBE di sekolah non mitra.

Kegiatan DBE3 telah direncanakan — termasuk pelatihan untuk guru Bahasa Inggris dan PKn, pelatihan kepemimpinan untuk kepala sekolah, serta pendampingan dan dukungan untuk diseminasi DBE3 akan diimplementasikan di 49 kabupaten mitra.

 Kegiatan

 


  Diseminasi Buku Saku Kesiapsiagaan Remaja Terhadap Gempa
Siswa SMPN 2

Para siswa SMPN 2 Jogonalan Klaten sedang mementaskan drama tentang antisipasi bencana gempa bumi

Salah satu aktifitas program yang dilakukan oleh DBE3 adalah kerjasama dengan siswa SLTP untuk membuat buku saku mengenai kesiapsiagaan remaja terhadap gempa bumi.

Dalam kegiatan yang dimulai pada Mei 2008 dan berakhir pada November 2008, tim DBE3 bekerjasama dengan SMPN 2 Jogonalan di Klaten, Pusat Studi Bencana Alam (PSBA) Universitas Gadjah Mada dan Conoco Phillips.

Tujuan dari dibuatnya buku saku ini adalah agar para remaja memiliki pengetahuan dan kecakapan mengenai bencana gempa bumi.

Setelah membaca buku ini diharapkan mereka akan tahu indikasi yang terkait dengan gempa bumi dan tahu apa yang harus dilakukan jika gempa terjadi. Mereka juga diharapkan bisa membantu masyarakat dalam mengantisipasi gempa bumi yang terjadi.

Para siswa terlibat dalam pembuatan buku ini sejak tahap awal. Mereka menentukan materi yang akan dimuat dan juga terlibat dalam diskusi pembuatan buku ini. Pada bulan November 2008 draft buku selesai dan dipresentasikan oleh siswa dalam bentuk drama.

Workshop itu sendiri diselenggarakan pada 2 & 4 Desember 2008 di Semarang dan Solo. Workshop yang melibatkan Diknas, Depag, kepala sekolah, guru, pengawas sekolah dan siswa, bertujuan untuk memperkenalkan Buku Saku ini, menginformasikan proses pembuatanya , serta mengajak pihak sekolah untuk menggunakannya sebagai materi pembelajaran ekstra dan/atau intra kurikuler.