HOME:HALAMAN UTAMA
  Berita DBE EDISI 1
 Berita & Artikel
 Informasi Baru
 Mengenai Kami
 100 Kunjungan Terakhir
  

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  

 Kolom

Halaman 5 


  DBE3 Siapa Yang Punya?
  Oleh Ajar Budi Kuncoro*

DBE3 memiliki keterbatasan dalam melatih guru dan berharap agar pemerintah kabupaten bisa membantu menggelar kegiatan pelatihan dan diseminasi program ke sekolah dan guru-guru, dengan memanfaatkan District Trainer yang telah dilatih oleh DBE3. Pak Budi, Koordinator DBE3 Propinsi Jawa Tengah memaparkan bagaimana diseminasi rogram dilakukan di daerah kerjanya.

Bpk. Ajar Budi Kuncoro

Dalam perjalanan pulang dari pertemuan koordinasi dengan District Trainer di Kabupaten Karanganyar, terngiang-ngiang di telinga saya lagu Nona Manis Siapa Yang Punya yang sangat terkenal itu. Lagu tersebut kembali merasuk ke memori saya karena dipicu oleh pertanyaan dan pernyataan Bpk. Sutrisno, District Trainer yang kebetulan juga staf Diknas Kabupaten Karang anyar.

Dalam pertemuan di Karanganyar, Pak Tris – panggilan sehari-hari untuk Bpk. Sutrisno -- mengatakan bahwa banyak guru di kecamatan non-target DBE3 merasa iri karena tidak mendapatkan kesempatan ikut serta dalam pelatihan modul 1-7 DBE3. Mereka hanya bisa mendengar cerita dari rekan-rekannya yang mendapatkan manfaat dari pelatihan tersebut. Pernyataan Pak Tris tersebut dilanjutkan dengan pertanyaan: Apakah DBE3 Jawa Tengah bisa menambah jumlah kecamatan dan jumlah sekolah dan memberikan pelatihan kepada mereka?

Hal yang diungkapkan Pak Tris tersebut sudah sering saya dengar. Ibu Suharni, koordinator District Trainer di Kabupaten Boyolali; Bpk. Joko dan Ibu Zumaroh, pengawas Diknas dan pengawas Depag dari Kudus; Bpk. Agus Adib dari Jepara; Bpk. Sunarto dan Bpk. Purwanto dari Klaten; dan para District Trainer dari Kabupaten-Kabupaten yang lain ternyata juga mengungkapkan hal yang kurang lebih sama.

Berbagai perasaan bercampur aduk menjadi satu di dalam diri saya. Di satu sisi ada rasa prihatin karena banyak guru yang belum tersentuh oleh pelatihan DBE3.
Tapi di sisi lain juga ada rasa bangga yang terselip karena terbukti pelatihan DBE3 bermanfaat bagi para guru dan siswa. Saya masih ingat ketika Ibu Lis, guru Bahasa Inggris di SMP Muhammadiyah Jogonalan, mengatakan

bahwa murid-muridnya sekarang tidak takut lagi terhadap pelajaran Bahasa Inggris. Ibu Supartinah dari Karanganyar pun menyatakan hal yang sama. Bpk. Suyono dan Bu Sri Lestari, guru-guru di Kudus dan Karanganyar, juga mengabarkan bahwa Matematika tidak lagi menjadi momok yang menakutkan bagi para siswa. Mereka bahkan merasa enjoy dengan pendekatan pembelajaran bermakna yang diterapkan dari hasil pelatihan DBE3. Para siswa juga merasakan pelajaran PKn tidak lagi membosankan.

Dalam MoU dengan Pemerintah Kabupaten secara eksplisit disebutkan bahwa Pemerintah Kabupaten bertanggung jawab untuk melakukan diseminasi program DBE3 di sekolah-sekolah dan kecamatan-kecamatan non-target DBE3. Keterbatasan dana yang dimiliki oleh Pemerintah Kabupaten memang tidak memungkinkan terlaksananya proses penyebarluasan secara cepat dan merata bagi semua guru, baik di sekolah negeri maupun swasta.

Namun keterbatasan tersebut ternyata tidak menjadi penghambat untuk melaksanakan program diseminasi di kabupaten Karanganyar. Gebrakan di kabupaten Karanganyar dimulai oleh Bpk. Mulyono, District Trainer Karanganyar yang kebetulan menjabat tugas baru sebagai kepala MTsN Wonogiri.

Dengan semangat yang luar biasa, Pak Mul mengkoordinasikan pelatihan modul dasar untuk perwakilan seluruh MTs negeri dan swasta di kabupaten Wonogiri. Bpk. Abid Maksum, District Trainer yang juga anggota pengurus Muhammadiyah Karanganyar, juga tidak mau ketinggalan. Bersama dengan Pak Mul, Pak Abid mengadakan pelatihan modul 1-7 untuk perwakilan-perwakilan sekolah-sekolah Muhammadiyah se-Kabupaten Karanganyar.

Semangat tersebut kemudian menular ke Bpk. Suwarno dan Bpk. Atok di Boyolali, serta Bpk. Jati di Jepara.

Semangat para guru yang ingin maju tersebut ternyata mendapatkan respon positif dari Pemerintah Kabupaten. Dimulai dengan Kabupaten Boyolali yang menganggarkan program diseminasi program pada APBD 2008, kabupaten mitra lainnya mengikuti jejak Boyolali dengan menyediakan anggaran program diseminasi di tahun 2009. Hanya Kabupaten Klaten saja yang masih dalam proses realisasi pengalokasian dana.

Hal positif ini bisa terwujud berkat kerja sama dari berbagai pihak. Diknas dan Depag memainkan peranan yang sangat vital. Disamping itu kita juga harus menghargai kerja keras para District Trainer dan Kepala Sekolah yang tak kenal lelah mengupayakan berjalannya program DBE3, bersama dengan staf DBE3 Jawa Tengah. Kerjasama ini terbukti efektif dan mampu menjawab tantangan yang ada.

Dari uraian yang saya sampaikan di atas, kita bisa melihat bahwa program DBE3 mulai mengalami pergeseran kepemilikan. Saat ini terlihat bahwa para pelaku pendidikan di lapangan semakin merasa memiliki program yang terbukti bermanfaat bagi pengembangan kualitas pendidikan ini. Tentu saja hal ini adalah berita gembira bagi kita semua karena dengan demikian program DBE3 akan menjadi program yang inklusif dan bisa dijalankan oleh siapa saja.

Kembali ke lagu Nona Manis Siapa Yang Punya. Lagu ini sekarang berubah judul menjadi DBE3 Siapa Yang Punya. Jawabannya, tentu saja, kita semua.

*Koordinator DBE3 Propinsi Jawa Tengah