|
Berita Dari Provinsi
|
Halaman 14
|
Lomba Kreatif Pemanfaatan Karya Siswa dari Barang Bekas
|
Water Rocket buatan siswa kelas VIII-B, berhasil menjadi juara pertama.
|
ADA banyak cara yang dilakukan untuk membuat sumber belajar. Semua itu bergantung pada kreativitas dalam memanfaatkan media yang tersedia. Barang-barang yang selama ini sudah tak layak dipakai atau tidak bermanfaat lagi, rupanya mendorong MTs Negeri Kudus mengadakan lomba kreativitas yang bertajuk, media pembelajaran dari bahan bekas. Acara bertema " Karya Siswa dalam Memanfaatkan Barang Bekas sebagai Media/Sumber Pembelajaran ".
Lomba yang digelar pada bulan Maret lalu itu, diikuti oleh perwakilan setiap kelas.
Tujuannya menggali potensi dan kreativitas siswa dalam menemukan sumber belajar yang selama ini sudah diperoleh dalam mata pelajaran, Siswa tampak antusias mengikutinya. "Siswa sangat menyukai lomba ini dan hasilnya juga bagus. Talenta siswa bisa diasah melalui lomba ini", ujar Chasnah, M.Pd.I sebagai panitia penyelenggara. Selain lomba kreativitas siswa, ada pula lomba pengelolaan kelas yang dinilai mulai dari kebersihan kelas hingga penataan perpustakaan kelas. Diharapkan siswa tidak hanya menciptakan sumber belajar dari barang bekas, tetapi juga merawat dan memanfaatkan perpustakaan kelas sebagai sumber belajar.
Perpustakaan kelas tidak hanya dikelola dengan baik, tetapi mampu meningkatkan minat baca siswa.
Lomba ini merupakan upaya penyegaran siswa usai bergelut dengan soal ujian. Oleh karena itu, Kepala MTs Negeri Kudus Drs. H. Nur Salim menuturkan rencana untuk melakukan lomba serupa setiap tahun. Semoga guru pun tak kalah bersaing dengan siswa dalam menemukan kreativitas. sumber belajar.
Replikasi BTL Buat Guru SMPN 1 Mayong: Sebuah Harapan
FENOMENA teacher centre atau siswa dianggap baik bila diam dan menurut, sudah menjadi masa lalu di SMPN 1 Mayong. Sekolah yang mendapat predikat SSN tersebut, berinisiatif mengadakan Replikasi BTL 2. Pelatihan itu diakui para guru sebagai gerakan perubahan untuk meningkatkan kinerja guru. Perubahan pun terjadi, sekolah yang memiliki 781 Siswa dengan 51 guru berhasil mengelola suasana pembelajaran yang kondusif dan menyenangkan siswa. Pola tempat duduk siswa tidak lagi dibuat seperti "gerbong kereta" tetapi dibuat secara berkelompok dan disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran. Pengaturan seperti ini memungkinkan siswa belajar bersosialisas dan berdiskusi.
Di belakang kelas tersedia papan pajang, setiap siswa dapat menampilkan dan memajangkan karyanya. Suatu kebanggaan bagi siswa bahwa pajangan karya bisa dijadikan bahan evaluasi, refleksi dan apresiasi dan inspirasi pembelajaran. Guru menjadi lebih kreatif menciptakan skenario pembelajaran yang aktraktif dan inspiratif bagi siswa. Mulai dari pembuatan Lembar Kerja; merancang media hingga menentukan rubrik penilaian yang disesuaikan dengan pembelajaran bukan perkara mudah bagi guru. Namun, disinilah guru mampu mengaktualisasikan perannya secara optimal. Guru dan siswa merasa nyaman di kelas.
Agar perubahan terjadi secara berkelanjutan, kepala sekolah menerapkan kebijakan pendampingan atau supervisi terhadap hasil pelatihan pada pembelajaran di kelas. Fasilitas dan sarana sekolah pun ditingkatkan. Perubahan adalah sebuah proses yang tidak terjadi secara instan. Diperlukan dukungan semua pihak agar peningkatan kualitas pendidikan berlangsung berkelanjutan. Kepala sekolah, guru, dan siswa menjadi kompeten adalah harapan dari sebuah perubahan.
|
Pengelolaan kelas di SMPN 1 Mayong dibuat dinamis untuk memberi kemudahan akses siswa dalam belajar berkelompok.
|
|
Inovasi Pendidikan: Media
Komunikasi SMP dan MTs
|
Edisi 10/Mei 2011
|
|