|
Dra. Hartati Hamid adalah sosok yang tidak bisa dipisahkan dari PKBM Nur Alif. Ia adalah tokoh kunci dibalik susksesnya PKBM Nur Alif dalam mengembangkan bisnisnya. Ia memulai
usahanya dengan berjualan kue tradisional dan sara’ba (minuman tradisional dari Sulawesi Selatan) di rumahnya.
Kemudian ia juga merambah ke usaha jahit. Pekerja keras adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan ibu dua anak ini. Tahun 1995 – 1997 adalah masa-masa
sulit bagi dirinya. Suaminya – bpk. Basri Daeng Situju – hanyalah seorang guru
honor yang penghasilannya hanya cukup untuk menutupi transportasinya ke tempat kerja.
Berangkat dari kesulitan ini, ibu Hartati, Sarjana Pendidikan Luar Sekolah, berpikir untuk mengatasi kesulitan keluarga. Setelah mempertimbangkan dan mengevaluasi bisnis kue tradisionalnya, Ibu Hartati dan suaminya memutuskan untuk menyetopnya dan memulai bisnis
baru: pembuatan tirai.
Keterampilan membuat tirai ini diperolehnya ketika belajar di Makassar. Dengan modal sebesar Rp. 300.000, ia memulai bisnis ini. Ia membuat beberapa contoh tirai dan memajangnya di pasar Jeneponto. Satu persatu pelanggan mulai tertarik.
Pada awalnya, beberapa pesanan yang datang hanyalah dari Jeneponto saja. Namun kemudian, ia mendapatkan pesanan dari Bantaeng, Gowa, Takalar bahkan Makassar. Ketika ditanya bagaimana caranya memasarkan produknya, ibu Hartati menjelaskan bahwa ia mendapatkan pengetahuan yang berguna dari pelatihan DBE3.
Tidak cukup puas dengan usaha yang dijalankannya, ibu Hartati dan suaminya kemudian membentuk Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) pada tahun 2004.
|
Ia berharap PKBM ini bisa menjadi sumber inspirasi bagi masyarakat dan tempat berbagi ilmu. PKBM ini diberi nama Nur Alif. Sekarang PKBM ini telah memiliki tujuh orang staf yang membantu menjalankan kegiatannya.
Aset PKBM Nur Alif telah berkembang dan sekarang menjadi Rp. 125 juta, terdiri dari mesin jahit, tempat usaha dan modal pengembangan usaha. Disamping itu, ibu Hartati juga mengembangkan program Paket A dan B (untuk membantu masyarakat belajar kecakapan dasar seperti membaca dan berhitung). Program ini ia kembangkan melalui kerjasama dengan Dinas
|
Dimulai sejak 2004, PKBM Nur Alif sekarang memiliki tujuh staf dan aset sebesar Rp. 125 juta.
|
Pendidikan Kabupaten Jeneponto. Ia merasa tertantang untuk membuat orang tertarik untuk belajar. Nalurinya yang kuat untuk membantu orang lain memang sangat luar biasa. Sampai saat ini dia membina warga belajar sekitar 40 orang pada program paket B. Ketika ditanya apa rahasia suksesnya dalam mengelola PKBM dan bisnisnya, ia menyebutkan empat kata: “keikhlasan, ketekunan, keuletan dan kesabaran”.
|