HOME:HALAMAN UTAMA
  Berita DBE EDISI 2
 Berita Dari Lapangan
 Mengenai Kami
 100 Kunjungan Terakhir
  

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  

 Kolom

Halaman 5 

Pembelajaran Kontekstual dan Pendidikan Kecakapan Hidup
Oleh Drs. Farhan, M.Pd

Drs. Farhan, M.Pd PENDIDIKAN di Indonesia belum begitu berhasil dalam menghasilkan lulusan yang kreatif, inovatif, dan produktif. Alasan utamanya adalah karena kegiatan pembelajaran di sekolah cenderung teoretis dan hanya terfokus pada transfer pengetahuan daripada pengembangan kecakapan hidup seperti kerjasama, berpikir kritis dan kreatif, serta motivasi kerja yang tinggi.

Kecakapan semacam inilah, Kecakapan Hidup, yang nantinya akan dibutuhkan dan yang paling bermanfaat bagi siswa untuk bisa hidup yang lebih positif dan produktif.

Mengintegrasikan kecakapan hidup ke dalam aktivitas belajar mengajar di kelas sangat tergantung pada pemahaman dan kemampuan guru dalam menerapkan strategi pembelajaran yang tepat.

Salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan mengimplementasikan pembelajaran kontekstual. Pembelajaran kontekstual mengaitkan proses belajar di kelas dengan situasi nyata sehari-hari serta pengalaman dan lingkungan siswa.

Pembelajaran kontekstual dapat mendukung siswa dalam berpikir kritis, mentransfer pengetahuan, menganalisis data, dan memecahkan masalah.

Ketika menyelesaikan studi S2 saya di Universitas Sebelas Maret, Surakarta, saya melakukan riset mengenai implementasi pembelajaran kontekstual, yang merupakan studi kasus di MTsN Kudus.

Studi Kasus di MTsN Kudus

Pembelajaran kontekstual yang mengintegrasikan pendidikan kecakapan hidup berhasil diadopsi dan diterapkan oleh guru-guru di MTsN Kudus.

Hasilnya adalah peningkatan pada kecakapan interpersonal, kecakapan akademis, dan kecakapan pra kejuruan pada diri siswa. Ada perubahan signifikan yang positif yang terjadi di MTsN Kudus, yaitu:

  1. Kegiatan kelas menjadi lebih menyenangkan dan lebih menantang. Siswa terdorong untuk terlibat aktif dalam pembelajaran.

  2. Guru menggunakan alat dan bahan ajar yang beragam

  3. Guru menerapkan manajemen kelas yang lebih baik. Siswa bekerja secara individu maupun kelompok. Hal ini membuat mereka bisa saling berinteraksi dengan baik

  4. Pelajaran tidak monoton dan siswa bisa mengerti materi ajar dengan lebih mudah

  5. Guru sering memberi pertanyaan dan tugas yang menantang sehingga memacu siswa untuk memikirkannya secara kritis dan materi yang diajarkan berhubungan dengan lingkungan siswa.

Kesimpulan

Penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran kontekstual memang tepat digunakan untuk pengembangan kecakapan hidup karena memiliki potensi yang kuat untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata. Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwa integrasi pendidikan kecakapan hidup pada aktivitas belajar di kelas dapat dicapai melalui pendekatan pembelajaran yang kontekstual.

Untuk mengakhiri artikel ini, saya ingin berbagi beberapa hal terkait dengan pembelajaran kontekstual dan kecakapan hidup. Jika hal-hal di bawah ini dipenuhi, saya yakin pembelajaran kontekstual dapat diterapkan dan membuahkan hasil yang positif. Pertama, harus ada usaha peningkatan kesadaran guru akan pentingnya pengembangan kecakapan hidup.

Pengetahuan dan keterampilan guru ini harus diterapkan pada proses pembelajaran di kelas. Kedua, guru perlu mengembangkan pembelajaran kontekstual dengan menggunakan materi ajar dan alat yang beragam. Yang terakhir, otoritas pendidikan, seperti Kepala Dinas, Pengawas Sekolah, dan Kepala Sekolah perlu mendukung dan menyediakan fasilitas bagi para guru untuk mengembangkan pembelajaran kontekstual.

Seleksi Fasilitator Daerah

Untuk memastikan berlangsungnya program dengan sukses, baik jangka pendek maupun jangka panjang, program pelatihan DBE3 di tingkat kabupaten didukung oleh para fasilitator daerah.

Untuk memilih fasilitator yang paling kompeten dan membangun rasa kepemilikan program dari pemerintah kabupaten, DBE3 melibatkan pemerintah kabupaten dalam proses seleksi fasilitator daerah ini.


Garut, Jawa Barat: Pada tanggal 9 Maret, 2009, bertempat di SMPN 1 Garut, DBE3 Jabar menggelar proses seleksi fasilitator daerah. 50 peserta yang terdiri dari guru-guru SMP/MTs di Garut ikut terlibat dalam proses ini.

Pada proses ini panelis yang terdiri dari personil Dinas Pendidikan, Kantor Depag dan DBE3 menguji kemampuan akademis dan komunikasi dari para peserta melalui wawancara dan presentasi.

Dari 50 peserta, 15 orang terpilih menjadi fasilitator daerah untuk lima mata pelajaran: IPA, IPS, Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Drs. Syahruddin, M.Ed

Kepala Dinas Pendidikan Sidrap, Drs. Syahruddin, M.Ed, sedang mewawancarai salah satu peserta seleksi fasilitator daerah.

Sidrap, Sulawesi Selatan: Diadakan pada tanggal 19-20 di kantor Dinas Pendidikan di Sidrap, proses seleksi ini melibatkan 24 peserta, yang terseleksi dari 46 pelamar. Para peserta proses seleksi ini diwawancarai oleh panel yang terdiri dari personil Dinas Pendidikan dan Kantor Depag serta DBE3.

Dari 24 peserta terpilih 12 orang yang kemudian mengikuti pelatihan pada tanggal 30 Maret hingga 1 April 2009. Ke-12 fasilitator daerah yang baru ini akan bergabung dengan tiga orang lainnya yang sebelumnya telah memfasilitasi pelatihan bahasa Inggris yang diadakan oleh DBE3.


 Inovasi Pendidikan: Media Komunikasi SMP dan MTs

Nomor 02/April 2009