HOME:HALAMAN UTAMA
  Berita DBE3 EDISI 4
  
 Berita & Artikel
  
 Informasi Baru
 Mengenai Kami
 100 Kunjungan Terakhir
  

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  

 Berita Dari Provinsi

Halaman 11 


Jawa Tengah

Guru berperan sebagai fasilitator bagi siswa seperti di SMP 2 Musuk.

Perubahan untuk Mengembangkan Kecakapan Hidup Siswa

SETELAH program Whole School Approach (WSA) DBE3 diluncurkan pada awal tahun 2009, belum lama ini telah diselenggarakan Pelatihan Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna 2 (Better Teaching and Learning-2). Pelatihan diikuti oleh 961 guru, pengawas, dan Kepala Sekolah yang berasal dari 50 sekolah/madrasah mitra DBE3 di Provinsi Jawa Tengah yang tersebar di 5 kabupaten, yaitu: Kabupaten Boyolali, Grobogan, Karanganyar, Kudus, dan Purworejo.

Pelaksanaannya disambut positif oleh pemerintah daerah di 5 kabupaten tersebut. Di Purworejo misalnya, Wakil Bupati Purworejo, Drs. H. Mahsun Zain mengatakan bahwa program DBE3 sangat membantu upaya pemerintah daerah dalam mendorong guru agar dapat beradaptasi dengan tuntutan zaman yang kian kompleks. Untuk itu, tak ada cara lain bagi guru kecuali meningkatkan kapasitasnya agar tetap relevan, salah satunya dengan mengikuti program DBE.

Pelatihan BTL-2 ini, difokuskan pada pengembangan 2 kelompok kecakapan hidup, yaitu kecakapan akademis dan kecakapan sosial. Pada kecakapan akademis dikembang-kan kecakapan dalam memecahkan masalah dan pengambilan keputusan. Pada kecakapan sosial akan dikem-bangkan kecakapan bekerja dalam kelompok dan kecakapan belajar secara kooperatif.

Selama empat hari peserta dilatih menerapkan pola pembelajaran kon-tekstual yang memiliki ciri: menuntut siswa untuk aktif dan kreatif, meng-gunakan kemampuan berpikir tingkat tinggi, memanfaatkan lingkungan yang ada di sekitar, dan bekerja dalam kelompok.‘’Empat hari pelatihan sungguh membuat saya merasa dibekali amunisi untuk menjadi guru yang professional.

Pelatihan ini mampu mencerahkan saya untuk mencoba metode-metode pembelajaran kooperatif di kelas,” komentar Nasrifah, S.Pd, guru MTs Miftahul Ulum Jati Kudus. Berdasarkan evaluasi siswa atas pembelajaran dengan menggunakan pola CTL hasilnya mengagumkan, mereka terkesan dan merasa senang, bahkan untuk mata pelajaran matematika yang biasanya membosankan dan “ditakuti”.

Agus Prakosa, siswa SMP 3 Karanganyar, berkata ‘’Saya senang dengan sistem pembelajaran baru, menerima hal baru dalam pembelajaran seperti ada kontrak belajar, diskusi-diskusi yang menarik, menempel hasil presentasi dan menjadikan kami lebih berarti  atau diperhatikan.’’ Ini adalah ungkapan dalam rangkaian pelatihan.

Rangkaian materi pelatihan juga membahas tentang peran kepala sekolah/madrasah dan pengawas. Materi ini menekankan peningkatan kapasitas Kepala Sekolah/Madrasah dan Pengawas dalam melakukan proses pembinaan untuk menunjang peningkatan mutu pembelajaran, memahami program WSA dan menunjang peningkatan MGMP (musyawarah guru mata pelajaran) dan MKKS-KKM (musyawarah kerja kepala sekolah/kelompok kerja madrasah). Bahkan Forum MKKS Kabupaten Boyolali akan membuat replikasi pelatihan BTL-2 khusus diikuti oleh para Kepala Sekolah.

’Melihat perkembangan metode pembelajaran yang ada, Kepala Sekolah perlu mendapatkan pelatihan mengenai pembelajaran yang inovatif dan kreatif agar kami bisa mengawal kegiatan pembelajaran di kelas dengan modal yang memadai, “ kata Syamsudin,S.Pd Ketua MKKS Kabupaten Boyolali

“This four-day training really enlightened and motivated me to be a more professional teacher. The training encouraged me to use cooperative learning methods in my lessons.”


Praktik mengajar IPA di SMP 1 Gebog.

 Inovasi Pendidikan: Media Komunikasi SMP dan MTs

Nomor 04/November 2009