|
Berita Dari Provinsi
|
Halaman 12
|
Madrasah Kaki Gunung Merapi, Prestasi Tak Kalah Aksi
AWALNYA, MTs N Cepogo merupakan MTs swasta bernama MTs Agama Islam yang didirikan pada tahun 1952, kemudian berubah menjadi MTs Negeri pada tahun 1997. Berada di kaki Gunung Merapi sekitar 15 KM dari kota Boyolali tidak membuat madrasah ini kehilangan semangat untuk selalu berinovasi dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
“Saya dan DBE 3 datang hampir bersamaan pada tahun 2006. Pelatihan dan pendampingan dari DBE 3 terutama metode pembelajaran yang tidak lagi konvensional selaras dengan program kami yang sedang berbenah untuk membuat anak senang belajar,” kata Drs. Nur Hudaya Solichin, Kepala MTsN Cepogo.
Guru-guru yang masih muda merupakan modal utama MTs N Cepogo untuk melakukan perubahan model pembelajaran di kelas. Bila kita jalan berkeliling madrasah akan terlihat semua kelas mempunyai pengaturan tempat duduk yang bervariasi, hasil kreasi anak dipajang di dinding-dinding kelas dan kebun yang masih luas dimanfaatkan untuk pembelajaran.
|
Kegiatan pembelajaran di MTsN Cepogo.
|
Madrasah ini setiap hari riuh dengan suara anak-anak bukan sedang bermain tapi mereka belajar. “Pendapat kami selalu dihargai, sehingga termotivasi untuk selalu bisa,” kata Nur Arifiani siswi kelas IX.
Menuju madrasah berbasis TIK, MTsN Cepogo mulai dengan memasang jaringan internet kemudian mereplikasi pelatihan Intel Teach Getting Started untuk semua guru bahkan MTs swasta yang berada dalam satu KKM(Kelompok Kerja Madrasah) diundang untuk mengikuti pelatihan. Pak Nur menegaskan bahwa semua guru harus menguasai komputer utamanya untuk pembelajaran.
Budaya Mengemukakan Pendapat
BERMULA dari menjadi mitra DBE 3, SMPN 1 Grobogan merasa beruntung karena mayoritas guru-gurunya telah mendapatkan pelatihan-pelatihan peningkatan mutu pendidikan yang beragam. Para guru dapat memahami bagaimana menciptakan pembelajaran yang lebih baik.
Para Guru memberikan ruang kepada siswa untuk selalu mengekspresikan ide-ide mereka dengan menggunakan metode pembelajaran aktif dan menghargai anak dengan memajangkan karya kreasi mereka di dinding kelas. Lingkungan SMPN 1 Grobogan telah menciptakan lingkungan belajar yang positif. Misalnya, di sela-sela break atau istirahat, terbiasa dimanfaatkan untuk ”curhat” kaitan pembelajaran, kinerja guru, perkembangan kelas dan siswa.
Itu terjadi antara guru dengan siswa, guru dengan guru, baik lintas mata pelajaran maupun di dalam MGMP tingkat sekolah, bahkan antar siswa.
Kedisiplinan siswa terbangun dari buku tata krama siswa. Lingkungan yang mendukung, ternyata menumbuhkan kemampuan siswa untuk berani dan dapat mengemukakan pendapat.
|
Siswa SMP 1 Grobogan mempresentasikan hasil diskusinya, dan kelompok lainnya diberi kesempatan mengemukakan pendapat mereka.
|
|
Inovasi Pendidikan: Media Komunikasi SMP dan MTs
|
Nomor 04/November 2009
|
|