HOME:HALAMAN UTAMA
  Berita DBE3 EDISI 4
  
 Berita & Artikel
  
 Informasi Baru
 Mengenai Kami
 100 Kunjungan Terakhir
  

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  

 Berita Dari Provinsi

Halaman 18 


Sulawesi Selatan

Pendampingan, Model Supervisi yang Lebih Tepat bagi Pengawas*

LOKAKARYA yang dilaksanakan DBE3 bukanlah menjadi akhir sebuah proses peningkatan kapasitas guru. Proses selanjutnya adalah penguatan aplikasi pengetahuan dan pengalaman melalui kegiatan pendampingan guru di sekolah. Kegiatan ini juga menjadi ajang berbagi antar pelatih (fasilitator daerah) yang menjadi pendamping dengan guru. Pada awalnya para pendamping ini diberi pelatihan yang memadai untuk menjadi pendamping yang handal.

Melalui pelatihan, seorang calon pendamping diajari bagaimana menjadi motivator, pendengar, penanya yang baik, dan pemberi solusi yang arif. Mereka juga dibekali keterampilan antar pribadi yang baik serta pengetahuan yang luas. Sebagai seorang pengawas, yang juga fasilitator daerah, saya memandang pentingnya karakter yang disebut di atas untuk membantu pengembangan profesionalisme pengawas. Seorang pengawas dituntut untuk selalu belajar dan mengikuti perkembangan dunia pendidikan.

Seorang pengawas di tugaskan untuk membimbing guru dalam menyusun silabus, menyusun RPP, serta memilih metode dan strategi pembelajaran di kelas (Permendiknas Nomor 12 tahun 2007). Pengalaman melaksanakan pendampingan dalam program DBE3 telah membantu saya sebagai pengawas menemukan bentuk supervisi yang tepat. Saat di kelas, pengawas terkadang menampilkan aksi pamer otoritas strukturalnya di depan guru dan kepala sekolah.

Pengawas mendampingi guru dalam supervisi pembelajaran.

Hal ini harus diubah karena pengawas harus menjadi fasilitator, menjadi mitra sejajar guru dalam membangun pembelajaran kontekstual. Ia harus berbagi pengalaman dengan guru tentang pendekatan pembelajaran yang berpusat pada anak. Melalui pendekatan ini pengawas dan guru bisa mengajak anak untuk berpikir kritis, bekerjasama dalam kelompoknya, melakukan refleksi proses pembelajaran, dan menggunakan serta memilih sumberdaya belajar yang sesuai dan terjangkau.

Merefleksi diri sebagai pengawas yang melaksanakan pendampingan, saya menggarisbawahi bahwa peran pengawas yang direposisi sebagai pendamping (mentor) sangat membantu kepala sekolah dan guru dalam mewujudkan pengajaran profesional dan pembelajaran bermakna. Pada akhirnya hal ini akan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan.

* Ditulis Oleh Drs. Abdul Latif, M.Si,
Pengawas Diknas Sidrap, Sulawesi Selatan

Guruku adalah Temanku

Merenda cita-cita di atas titian juara seakan menjadi pilihannya. Meski usianya masih sangat belia, Rama Arisandi Udhin sangat getol menjajal kemampuannya di bidang Sains dan Matematika. Berbagai kompetisi Sains dan Matematika diikutinya, mulai dari tingkat sekolah, kabupaten, provinsi, hingga nasional.

Beberapa gelar telah diraih siswa kelas 3 SMP Negeri 2 Pangkajene ini, seperti juara kompetisi Matematika antar SMP se-Sulsel, Sulbar, dan Sulteng (2008), juara I Olimpiade Sains Matematika Kabupaten Pangkep, dan juara I Olimpiade Sains Matematika SMP tingkat provinsi Sulsel (2009). Ia bertekad meraih juara Olimpiade Sains Matematika tingkat nasional sebagai wakil provinsi Sulsel, serta menjuarai lomba Sains Matematika yang diselenggarakan beberapa universitas di Makassar.

Rama Arisandi Udhin Putra sulung dari pasangan Udhin dan Rosmini yang lahir 1 Maret 1995 ini tak pernah menyangka bisa jatuh cinta pada Matematika. Di masa sekolah dasar ia sama sekali tidak suka bidang studi ini. Selain susah dan bikin pusing, Matematika juga membosankan. Tapi hal ini sudah berubah 180 derajat. Sekarang Matematika menjadi pelajaran favoritnya. Tiap hari, sepulang sekolah, ia meluangkan waktu selama 2 jam untuk belajar Matematika. Tidak cukup dengan itu, ia pun ikut bergabung dan aktif dalam kegiatan komunitas Siswa Cinta Matematika Sepada (SCAMS), sebuah kelompok belajar yang dirintis oleh guru Matematikanya sendiri, Mansyur Eppe, sejak 7 tahun silam.

Menilik sebab kenapa ia senang Matematika, ternyata tak bisa lepas dari lingkungan belajar di sekolahnya. Guru Matematikanya selalu menciptakan suasana menyenangkan dalam belajar: diskusi kelompok, belajar di luar kelas, dan suasana belajar yang menyenangkan dan segar. Latihan dan praktik menjawab soal-soal banyak dilakukan di luar kelas. “Saya senang dengan suasana belajar di sekolah. Guru Matematika mengajar kami dengan santai. Bisa bertanya kapan dan di mana saja. Saya lebih merasakan bahwa guruku adalah temanku.

Menyitir ungkapan hikmah dari Imam Syafi’i bahwa sebuah proses belajar-mengajar akan berhasil jika guru dan murid sama-sama ikhlas. Guru ikhlas mengajar dan siswa ikhlas diajar. Semoga rasa “guruku adalah temanku” yang dirasakan Sandi adalah keikhlasan yang menyebar ke guru dan siswa lain di sekolah kita. Sukses untuk Sandi!

 Inovasi Pendidikan: Media Komunikasi SMP dan MTs

Nomor 04/November 2009