Inovasi Pendidikan
USAID Indonesia Inovasi Pendidikan DBE Indonesia
 HOME:HALAMAN UTAMA
  Berita DBE3 EDISI 6
 Berita Dari Lapangan
 Mengenai Kami
 100 Kunjungan Terakhir
  

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  

 Berita Dari Provinsi

Halaman 11 


Jawa Tengah

Yang Mereplikasi, Yang Berubah

Siswa SMP 1 Karangpandan menggunakan alat dan bahan sederhana melakukan percobaan untuk menghitung kecepatan gelombang.

ADA yang berbeda dengan pelajaran IPA di SMP 1 Karangpandan pagi itu. Para siswa berkelompok dan berdiskusi di pinggir sungai yang berjarak sekitar 50 meter dari sekolah. Dengan menggunakan alat dan bahan yang sederhana seperti batu, rafia, penggaris kayu dan stopwatch mereka sedang melakukan percobaan menghitung kecepatan gelombang.

Gatot Surono, S.Pd, guru IPA, mengatakan bahwa setelah mengikuti pelatihan BTL 2 (Better Teaching and Learning 2), dirinya berusaha menerapkannya di dalam kelas. Tercatat, dalam satu bulan sudah dua standar kompetensi yang dirancang menggunakan metode pembelajaran kooperatif. Kelas-kelas mata pelajaran lainnya juga berwarna dengan berbagai pajangan karya siswa. Perubahan yang terjadi, tidak lepas dari dukungan dan komitmen tinggi dari kepala SMP 1 Karangpandan Hanung Lilik Sukendra, S.Pd,M.Pd,MM, yang bertekad untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolahnya.

Perubahan tidak hanya milik SMP 1 Karangpandan, sekolah yang telah melakukan replikasi pelatihan modul DBE 3, tetapi juga sudah dibuktikan oleh sekolah non-mitra lainya.

Belajar Aktif Menjamur di MTs NU Banat Kudus

MAYORITAS guru di MTs. Banat Kudus adalah perempuan dan masih relatif muda. Dalam proses pembela-jaran mereka kerap menyiapkan media dan LK (Lembar Kerja). Menurut para guru, kepala sekolah sangat mendorong pelaksanaan active learning di kelas. Menurut Ibu Layyinah Mawarda, guru IPS, siswa sangat menyukai belajar kelompok. Mereka merasa termotivasi.

Guru lainnya, Ibu Sutikat menggu-nakan metode permainan kartu untuk berburu peta dan silsilah 25 rosul pada pelajaran aqidah akhlaq. Demikian juga pada bahasa Indonesia dengan belajar berkelompok, siswa didorong untuk berani berbicara, unjuk gigi, dan tak takut lagi. Noory Annisa Aulia siswi kelas 8 mengaku senang beradu pendapat dengan teman sekelasnya.

Menurutnya, dengan belajar kelompok, dia mengetahui variasi jawaban dari teman-teman. Ada banyak sisi yang bisa diketahui dari variasi argumen itu. Siswa lainnya Nur Fitri Amalia menimpali. ”Kalau mau belajar dengan fresh dan sharing antar teman, yang belajar kelompok itu,” sahutnya.

Menurut kedua siswi itu, sepanjang semester genap para gurunya lebih sering menggunakan metode cooperative learning. Sebetulnya di MTs NU Banat para guru sudah terbiasa menggunakan media pembelajaran baik buatan sendiri, hanya saja mereka masih merasa kesulitan untuk membuat anak active dan merasa senang.

Cara mengaktifkan anak inilah yang ditemukan mereka pada saat dilatih modul dasar kecakapan hidup DBE3 dalam kegiatan replikasi mandiri. ”Sekarang model belajar kelompok sudah menjamur di madrasah kami,” tutur Ibu Dianah Kepala MTs NU Banat.

Seluruh siswa MTs NU Banat berpartisipasi aktif dalam belajar kelompok tentang hubungan sosial mapel IPS.

 Inovasi Pendidikan: Media Komunikasi SMP dan MTs

Edisi 06/Mei 2010