Inovasi Pendidikan
USAID Indonesia Inovasi Pendidikan DBE Indonesia
 HOME:HALAMAN UTAMA
  Berita DBE3 EDISI 7
 Berita Dari Lapangan
 Mengenai Kami
 100 Kunjungan Terakhir
  

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  

 Berita Utama

Halaman 4 


Tagihan RTL DBE 3, Berhasil Mengembangkan Kecakapan Hidup Siswa

Hasil Penelitian Drs. Agus Suprapto, MM Kepala SMPN 2 Kradenan

PENGEMBANGAN kecakapan hidup sosial dan akademik siswa melalui pembelajaran saat ini belum efektif. Penyebabnya guru masih kurang mampu merancang dan melaksanakan pembelajaran kontekstual yang diintegrasikan dengan pengembangan kecakapan hidup. Upaya peningkatan kemampuan guru melalui pelatihan sudah dilakukan, tetapi karena tidak ada komitmen untuk berubah dari guru serta tidak adanya tagihan perubahan yang dituntut setelah pelatihan, berdampak kurang optimalnya perubahan dalam pembelajaran.

Program DBE3 memfasilitasi pelatihan tentang pengajaran profesional dan pembelajaran bermakna yang mengintegrasikan pengembangan kecakapan hidup. Setelah pelatihan ditindaklanjuti dengan adanya tagihan RTL dan upaya pendampingan kepala sekolah dan fasilitator agar komitmen melakukan perubahan berjalan secara berkesinambungan. Permasalahan penelitian ini dirumuskan, apakah melalui tagihan penyusunan rencana tindak lanjut (RTL) setelah mengikuti pelatihan DBE3 akan meningkatkan kemampuan guru menerapkan pembelajaran kontekstual dalam mengembangkan kecakapan hidup siswa di SMP N 2 Kradenan?

Sesuai dengan permasalahan tersebut tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan kemampuan guru merancang dan menerapkan pembelajaran kontekstual dalam mengembangkan kecakapan hidup peserta didik melalui tagihan RTL setelah mengikuti pelatihan DBE3 di SMPN 2 Kradenan. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research), dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap putaran terdiri empat tahap yaitu: perencanaan, kegiatan, pengamatan, dan refleksi. Sasaran penelitian adalah guru SMPN 2 Kradenan yang mengikuti pelatihan DBE3. Data diperoleh melalui wawancara dan lembar observasi.

Para guru SMPN 2 Kradenan berdiskusi dalam merancang metode pembelajaran kontekstual.

Hasil analisis menunjukkan bahwa kemampuan pembelajaran guru mengalami peningkatan dari kondisi awal sampai siklus II, pada kondisi awal kemampuan guru merancang dan menerapkan pembelajaran kontekstual sebesar (57,27%), siklus I (73,75%), siklus II (86,02%). Peningkatan cara pembelajaran guru juga berdampak terhadap rasa kepuasan belajar siswa; pada kondisi awal (48,55%), siklus I (70,87%), siklus II (80,44%) Kesimpulan penelitian bahwa pemberian pendampingan melalui tagihan RTL setelah pelatihan dapat meningkatkan kemampuan guru menerapkan pembelajaran kontekstual dalam mengembangkan kecakapan hidup. Hasil tersebut berdampak pula pada kepuasan anak dalam belajar.


Paradigma Kami Tentang PTK Kini Berubah

Penelitian Tindakan Kelas alias PTK, awalnya dipandang sebagai momok yang menakutkan oleh kedua mitraku (Budi Santoso dan Hading Rasyid) dan penelitian yang kuanggap kurang menantang. Buat kedua mitraku, PTK menjadi momok karena PTK di-anggap hal yang sulit dan tak mungkin mereka mampu lakukan. Bukan karena mereka tidak pernah mau berupaya. Sudah sering mereka mengikuti workshop PTK yang akhir-akhir ini menjamur. Akan tetapi, semakin disodori teori tentang PTK mereka semakin bingung dan belum mampu menghasilkan satu pun PTK. Alhasil, kedua mitraku sampai detik ini masih bertahan pada golongan IVa.

Sebaliknya, secara pribadi aku (sebagai akademisi kampus) selama ini memandang PTK kalah gaung dari penelitian eksperimen atau penelitian etnografi. Mungkin karena aku belum pernah memberi perhatian penuh, meskipun sering kulatihkan di beberapa workshop atau diklat. Tapi maaf, lebih berorientasi teori. Namun, seiring dengan pelatihan PTK program DBE3 yang kami ikuti, cara pandang kami sedikit demi sedikit bergeser dan bertemu dalam satu titik kesepahaman bahwa PTK itu penting untuk membantu memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran, harus dan dapat dilakukan oleh guru serta mengasyikkan dilakukan dengan kolaborasi antara guru dan dosen karena ada aktivitas saling mengisi dan saling mengerti.

Sistem pelatihan PTK yang digulirkan oleh DBE3, secara jujur, sangat efektif diterapkan. Dengan sistem pelatihan yang lebih menitikberatkan pada aktivitas meneliti bukan sekadar berteori;

Saat PTK di kelas

sistem pembimbingan dan pendampingan yang kuat dan kontinu; dari awal (nol), proses (siklus I dan II), sampai akhir (laporan hasil) penelitian memberi pengalaman baru buat tim kami. Hal ini aku coba adapatasi dalam Diklat PLPG Sertifikasi Guru Rayon 24, dan ternyata mengundang respon positif dari peserta. Satu hal yang dapat dipetik dari aktivitas kami ber-PTK bahwa masalah terbesar yang dihadapi oleh siswa kelas VII5 SMPN 5 Pirang dalam pembelajaran bahasa Indonesia, yaitu kesulitan menulis, khususnya menulis naratif, akhirnya dapat diatasi dengan pembelajaran kooperatif pola Dua-Dua-Empat melalui kegiatan PTK.

Selain itu, tertanam kesadaran pada diri kamu sebagai guru dan dosen bahwa kami tidak boleh membiarkan anak didik kami terus berlarut-larut mengalami kesulitan belajar, tanpa berupaya membantunya dan setiap masalah pembelajaran dapat dipecahkan dengan cara bekerja secara sistematik, terencana, dan kolaboratif dengan menggalakkan kegiatan ber-PTK.

 Inovasi Pendidikan: Media Komunikasi SMP dan MTs

Edisi 07/Agustus 2010