Inovasi Pendidikan
USAID Indonesia Inovasi Pendidikan DBE Indonesia
 HOME:HALAMAN UTAMA
  Berita DBE3 EDISI 8
 Berita Dari Lapangan
 Mengenai Kami
 100 Kunjungan Terakhir
  

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  

 Berita Dari Provinsi

Halaman 16 


Belajar Proses Ekskresi dengan Alat Peraga Sederhana

PEMBELAJARAN IPA akan lebih mudah dipahami oleh sisiwa apabila dalam penyampaian materinya, guru menggunakan alat peraga. Hal ini juga disadari oleh Toni Joko Firmanto, guru IPA SMPN 1 Trucuk Kabupaten Bojonegoro . Dalam pelaksanaan pembelajaran yang membahas tentang sistem ekskresi pada manusia, Toni menggunakan alat bantu yang dibuatnya bersama para siswa. Alat bantu tersebut dibuat dari bahan yang mudah didapat dan berbiaya murah. Media ini sangat berguna untuk membantu siswa menggambarkan bentuk dari dari ginjal sebagai salah satu organ ekskresi, serta memahami salah satu proses yang terjadi pada peristiwa pembentukan urine. Disamping itu media pembelajaran ini juga membantu siswa untuk mengembangkan daya persepsinya dalam memprediksikan gangguan pada ginjal melalui kegiatan yang dilakukan dengan menggunakan model nefron.

Proses eskresi dapat dengan mudah dipahami siswa dengan alat peraga yang dibuat dari bahan sederhana oleh pak Toni.

Bahan yang dipakai untuk membuat alat peraga ini diantaranya adalah: bekas gergaji, lem kayu, limbah kertas dan cat kayu. Bermacam bahan tadi kemudian dibuat menjadi tiruan bentuk ginjal manusia, sehingga proses ekskresi dapat lebih dijelaskan kepada siswa. Setelah siswa melakukan serangkaian serangkaian percobaan dan pengamatan, akhirnya mereka menuliskan hasil pengamatan tersebut dan memajangnya di dinding kelas. Menurut para siswa dengan bantuan alat peraga, pelajaran IPA menjadi lebih mudah dipahami dan mengasyikkan.

Sekolah Non Mitra yang Telah Berubah
SMPN 3 Krian Kabupaten Sidoarjo

MESKI SMPN 3 Krian Sidoarjo bukanlah sekolah mitra DBE3, namun semangat perubahan untuk menuju pem-belajaran yang bermakna dan berpusat pada siswa nampak jelas terlihat. Komitmen yang tinggi dari kepala sekolah dan seluruh gurunya untuk melakukan perubahan patut untuk diacungi jempol. Perubahan lingkungan kelas bisa teramati pada pengelolaan hasil karya siswa.

Siswa mengerjakan tugas kelompok pada pembelajaran Matematika.

Sekarang di setiap kelas dibuatkan papan pajangan. Tujuannya agar siswa dapat memajang buah pikirannya setelah mengikuti pembelajaran dan mendorong siswa untuk lebih aktif. Beberapa siswa menyatakan bahwa dengan perubahan ini membuat susana belajar di kelas menjadi lebih hidup dan menyenangkan dibanding dulu, saat mereka hanya duduk diam sambil mendengarkan guru mengajar. Tak hanya itu, kini dengan model pembalajaran kooperatif, keaktifan siswa meningkat.

Jika dulu mereka terkesan takut dan malu-malu untuk mengeluarkan pendapatnya, kini siswa tak segan-segan lagi untuk berpendapat. Menurut Rodhi Asa'd, Kepala Sekolah SMPN 3 Krian, DBE3 telah membuat semangat para guru untuk mengajar meningkat. Selain semangat mengajar guru yang meningkat, keaktifan siswa juga meningkat, akibatnya kini pembelajaran di kelas menjadi lebih menyenangkan.


 Inovasi Pendidikan: Media Komunikasi SMP dan MTs

Edisi 8/November 2010