|
Salam.
Wakil Bupati Tapanuli Utara (Taput), Bpk Bangkit P. Silaban, SE menyalami peserta pelatihan BTL 2 di Tarutung Foto: DBE 3/Sumut
|
|
|
Motivasi.
Bupati Tapanuli Selatan (Tapsel) Bpk. Ir. H. Ongku Hasibuan, MM memberikan motivasi kepada peserta pelatihan BTL 2 di Padangsidempuan. Foto:DBE 3 Sumut
|
|
Catatan dari BTL 2
Drs. Zulfan Effendi *)
Zaman sekarang, tantangan bagi guru semakin meningkat. Siswa tidak cukup hanya dibekali pengetahuan semata. Namun harus diperkaya kemampuan bertahan hidup. Bahkan siswa harus mampu memberi warna kehidupan ditengah-tengah masyarakat. Inilah istilah yang dikenal sebagai kecakapan hidup ( life skills).
Di Tanjungbalai, usaha menyebarluaskan praktek pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and Learning ) terus berlangsung. Salah satunya lewat pelatihan Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna. Selama beberapa hari, sekitar 189 guru, kepala sekolah dan pengawas dilatih menggunakan modul 1 s/d unit 4 modul BTL 2.
Selain itu, peserta juga diperkaya dengan real teaching (praktek mengajar). Sehingga peserta tidak hanya mendapatkan teori namun juga pengalaman langsung. Banyak hal-hal positif yang terungkap pada waktu pelaksanaan real teaching, antara lain:
Pertama, Peserta pelatihan telah mampu merancang, menerapkan/mengintegrasikan: aspek kecakapan hidup, pemecahan masalah dan pengambilan keputusan serta bekerja dalam kelompok.
|
Serius.
Dua peserta BTL 2 gelombang II di Tanjungbalai, tampak serius dalam menyiapkan RPP. Foto: DBE3/Sumut.
|
Kedua, Seluruh siswa pada kelas yang dimasuki, aktif mengerjakan tugas-tugas menantang yang diberikan guru. Lewat prinsip berfikir tingkat tinggi yang diberikan oleh Guru, mereka menikmati setiap tugas dan pertanyaan yang dilempar, selain itu mereka juga aktif berfikir dan berdiskusi untuk mencari pemecahan masalahnya.
Ketiga, Melalui refleksi secara tertulis, terungkap bahwa siswa sangat senang dengan kegiatan pembelajaran yang dilakukan, mereka mengatakan termotivasi dan sangat tertantang untuk belajar aktif dan kreatif.
Dari point-point di atas, ada tiga hal yang saya rekomendasikan.
Pertama, Siswa perlu diberikan kegiatan-kegiatan yang bersifat kontekstual, menantang dan lebih beragam untuk membangun kecakapan hidup mereka.
Kedua, Perlu adanya perhatian khusus dari Institusi Pendidikan maupun lembaga yang perduli terhadap pendidikan, seperti Dinas Pendidikan, Sekolah, DBE3 dan yang lainnya untuk terus melakukan peningkatan kemampuan, komitmen dan kesadaran Guru akan pentingnya mengintegrasikan life skill dalam proses pembelajaran di kelas.
Ketiga, Kepala Sekolah harus mampu memberikan bimbingan, dukungan dan motivasi sekaligus memfasilitasi Guru untuk menerapkan pembelajaran kontekstual demi pengembangan kecakapan hidup siswa sebagai generasi penerus harapan bangsa.
*) Distrik Fasilitator BDE 3 di Tanjungbalai
|