HOME:HALAMAN UTAMA
  Mitra Didaktika (Mei-09)
    
  
 Berita & Artikel
  
 Informasi Baru
 Mengenai Kami
 100 Kunjungan Terakhir
  

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  

 Warta Utama

Halaman 3 

Iskandar: “Siswa Bakal Pinter-pinter”

“Bila guru menerapkan pola pembelajaran seperti ini, tentu siswanya pinter-pinter,” ujar Iskandar Sulaeman dengan nada meyakinkan. Mengikuti Training of Trainers di Indramayu, Iskandar Sulaeman begitu yakin bahwa apa yang sedang ia ikuti merupakan suatu inovasi pembelajaran yang menjanjikan mutu pendidikan.

Baginya, para guru memang memerlukan inovasi semacam ini guna menghidupkan suatu proses pembelajaran yang dapat menjadi wahana pengembangan diri para siswa.

Iskandar Sulaeman

Iskandar Sulaeman, Fasilitator Daerah Karawang.


Indah

Indah, peserta ToT perwakilan LPMP Jabar, siap mendukung implementasi program DBE3 di daerah.

Tidak mengherankan bila kemudian Iskandar demikian antusias mengikuti sesi demi sesi Training of Trainers di Indramayu. Ia tampak begitu aktif mengikuti pelatihan karena tidak hendak ketinggalan materi sedikitpun.

Ia lalu bertekad untuk menjadi fasilitator daerah yang efektif “menularkan” inovasi pembelajaran kepada rekan-rekan guru di daerah. Ia tampak demikian optimis, dengan sentuhan DBE3, pendidikan di Karawang akan mengalami kemajuan signifikan.

Baginya, peluang kemajuan pendidikan ini sangat mungkin tercapai, sebab DBE3 terfokus pada pengembangan sekolah secara menyeluruh.

Bila kinerja guru meningkat sedemikian rupa, didukung oleh jaringan MGMP yang kondusif, performa kepala sekolah optimal, dan lingkungan sekolah yang mendukung, tentu mudah saja sekolah mencapai kemajuan luar biasa.

Inilah, Iskandar memahami, perubahan-perubahan yang dikehendaki sebagai dampak dari intervensi DBE3.

Evaluasi ToT di Indramayu

Evaluasi ToT di Indramayu dilaksanakan tiap malam guna menjamin mutu ToT. Tampak fasilitator nasional, konsultan, dan staf DBE3 Jabarten sedang serius mengikuti rapat evaluasi.

Menyongsong Dampak
Perubahan di Sekolah


ToT dan pelatihan guru yang megikutinya memang penting. Tetapi, lebih penting lagi adalah dampak perubahan yang terjadi di sekolah. Pelatihan guru menjadi tidak bermakna bila tidak memantik perubahan positif proses pendidikan di dataran sekolah. Demikian ditegaskan oleh Rifki Rosyad, EO DBE3 Jabarten, di sela-sela ToT. Ia kemudian mengutip Stuwart Weston saat menjelaskan dampak perubahan dimaksud sebagai berkut:

  • Perubahan proses pembelajaran:
    • Siswa terlibat aktif dalam kegiatan yang lebih beragam untuk membangun kecakapan hidup mereka. Hal ini termasuk kegiatan-kegiatan praktis dan penggunaan lingkungan sebagai sumber pembelajaran;

    • Siswa aktif mengerjakan tugas yang menantang mereka berdiskusi dan berpikir. Hasil kerja mereka adalah hasil pikiran sendiri yang merupakan bagian integral dari kecakapan hidupnya.

  • Perubahan lingkungan sekolah:
    • Ruang kelas ditata dengan lebih baik. Tempat duduk ditata agar siswa bisa bekerja dalam kelompok;

    • Hasil kerja siswa dipajang di dalam/luar kelas untuk menciptakan lingkungan berkarya yang menunjang proses belajar;

    • Perpustakaan sekolah dihidupkan sebagai sumber belajar untuk mendukung proses pembelajaran.

Siswa MTsN Jatibarang tengah bekerja secara berkelompok untuk lalu memajang hasil karyanya di lingkungan belajar.

  • Perubahan sistem pengembangan profesional:
    • Guru-guru aktif berpartisipasi dalam kegiatan MGMP untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas;

    • Sekolah mengadakan aktivitas pengembangan profesional, sehingga guru-guru bisa mengembangkan ide belajar dan saling belajar satu sama lain.

  • Ada perubahan positif pada Pengawas Sekolah dan Kepala Sekolah dalam mendukung guru-gurunya;

  • Ada perubahan positif yang terkait dengan kinerja dan prestasi siswa.

Siswa SMPN 2 Jatibarang belajar B. Inggris di dalam dan di luar ruang kelas sesuai kegiatannya.