|
Mata pelajaran kewarganegaraan (PKn/Civics) tidak lagi dikesani sebagai menjemukan oleh siswa-siswi di Bogor. Kini mereka merasa senang belajar PKn karena strategi pembelajaran baru yang diterapkan oleh para guru PKn binaan DBE3.
Hal ini setidaknya diakui oleh Hafizhudin, siswa SMPN 7 Kota Bogor. Hafizhuddin merasakan belajar PKn kini lebih bervariasi. “Aku suka dengan diskusi kelompok saat belajar PKn,” katanya. Saat ditanya alasannya, ia menjawab: “Ya, karena aku bisa belajar mengemukakan pendapat.”
Lebih jauh, Hafizhudin mengakui senang bila tiba saat praktek di luar kelas. “Aku senang pawai,” ujarnya. Ia lalu menjelaskan bahwa guru PKn suka memberinya kesempatan
untuk belajar berdemokrasi, seperti unjuk rasa yang tertib dan santun.
Para siswa, urainya, belajar menyusun rencana pawai itu dengan semacam rapat persiapan. Setelah segalanya siap, lalu mereka melakukan simulasi di lapangan.
“Temen-temen juga pada senang tuh kalau praktek di luar kelas,” katanya lagi. “Asyik aja tuh,” imbuhnya.
Demikian pula pengakuan Anisa mengenai pembelajaran ICT di SMPN 7 Bogor. “Aku senang belajar ICT,” katanya. “Aku senang sekali bisa memasukkan gambar ke dalam teks gitu,” ujarnya. Anisa juga mengaku sudah terbiasa mengakses Internet.
“Melihat nilai juga di Internet,” akunya.
Guru PKn, Bahasa Inggris, dan ICT merupakan prioritas binaan DBE3 sejak awal. Pembinaan guru PKn kini sudah phasing out untuk dikembangkan kepada 5 mata pelajaran baru (IPA, IPS, Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris).
|
Kota Bogor menjadi mitra DBE3 sejak tahun 2007 dengan 4 sekolah/madrasah target. Dengan penambahan 6 sekolah binaan baru sebagai extension district, kini terdapat 10 sekolah mitra DBE3 di kota hujan ini.
|
Hafizhudin bersama kelompok teman sekelasnya..
|
|
Hafizhudin, dengan senyum keceriaannya, saat wawancara.
|
|
Usai olahraga, Anisa (kedua kiri) dkk berselancar di dunia maya melalui akses Internet di SMPN 7 Bogor.
|
|