HOME:HALAMAN UTAMA
  Mitra Didaktika (Juli-09)
    
  
 Berita & Artikel
  
 Informasi Baru
 Mengenai Kami
 100 Kunjungan Terakhir
  

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  

Warta Utama

Halaman 2 


PTK, Guru Timbang Diri

Salah satu kegiatan tindak-lanjut adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Guru didorong untuk melakukan riset aksi mengenai proses pengajaran dan pembelajaran yang dijalankannya. Dengan PTK, guru dapat dengan sendirinya menemukan kekuatan dan kelemahan dirinya dalam mengajar.

PTK direncanakan dengan seksama dan disimulasikan dalam workshop

Inilah sebab mengapa PTK dibahas dan disimulasikan pada salah satu sesi lokakarya kegiatan tindak-lanjut. PTK yang dilakukan guru itu kemudian diikuti dengan proses diskusi antara guru dengan fasilitator kunjungan tindak-lanjut.

“Suasana yang dibangun di sini benar-benar bersifat introspektif dan partisipatif,” ujar Rukmana, fasilitator workshop. Ia lebih jauh menjelaskan bahwa, di satu sisi, guru berusaha menganalisis tindakan dirinya dalam proses pembelajaran. Di sisi lain, fasilitator membantu sang guru dalam upayanya meningkatkan kapasitas.

PTK, observasi guru, de-briefing, dan penilaian kinerja kecakapan hidup kini menjadi rangkaian kegiatan tindak-lanjut.***

KTL Desain Baru lebih Intensif

Pada tahun-tahun awal program DBE3, Kegiatan Tindak Lanjut (KTL) dilakukan dalam bentuk pendampingan guru. KTL hanya dilakukan oleh District Trainer dan hanya 7 kali per sekolah mitra.

“Berbeda dengan itu, KTL rancangan baru lebih bervariasi, melibatkan kepala sekolah dan pengawas, dan dilakukan dengan frekuensi lebih sering,” kata H. Udin, fasilitator lokakarya KTL. Selain pendampingan, kini KTL juga dilakukan dalam bentuk penelitian tindakan kelas, observasi, de-briefing, dan penilaian kecakapan hidup siswa.

Selain District Trainer, kepala sekolah dan pengawas juga dilibatkan sebagai falisitator KTL. Mereka lebih berperan sebagai fasilitator alih-alih pengawas. Frekuensi KTL kini lebih tinggi dengan target 30 kunjungan per sekolah.

Rancangan baru ini merupakan respons terhadap hasil evaluasi KTL sebelumnya. DBE3 Jakarta melakukan desain ulang KTL agar lebih kuat mendukung keberhasilan DBE3.***

Stuart Weston (kiri) dan Lorna L. Power (kanan) merancang kegiatan follow up agar lebih bervariasi, intensif, dan melibatkan pihak lain selain District Trainer.

Observasi Guru Mengawal Pembelajaran Bermutu

Pengamatan guru merupakan kegiatan standar dalam rangkaian kegiatan tindak-lanjut pascapelatihan. Di sini, District Trainer, pengawas, atau kepala sekolah bertindak sebagai fasilitator kegiatan tindak-lanjut dengan melakukan pendampingan guru. Dengan berpedoman pada rubrik penilaian kinerja yang sudah disiapkan, fasilitator kemudian mengamati strategi pembelajaran yang dimainkan oleh guru yang diamati.

Simulasi observasi guru untuk mengamati kinerja guru dalam proses pembelajaran

Demikian gambaran simulasi observasi guru yang dipergakan oleh para peserta lokakarya kegiatan tindak-lanjut di Bandung. Workshop tingkat Propinsi Jawa Barat ini berlangsung tanggal 29-30 Juni 2009 di Hotel Arwiga, Bandung.

Ia diikuti oleh 14 peserta (13 pria, 1 wanita) mewakili dua daerah inti binaan DBE3, Subang dan Sukabumi. “Mereka nanti akan melaksanakan kegiatan follow up di dua daerah binaan tersebut,” ujar Rifki Rosyad, EO DBE3 Jabar-Banten.

Perlu diskusi mendalam untuk mengatasi hambatan psikologis saat observasi guru.

Meski observasi guru itu merupakan sesuatu yang standar pada pendampingan guru, tak jarang muncul juga kendala psikologis. “Guru terkadang merasa diawasi dan bahkan dihakimi,” ujar Jojo dalam diskusi kelompok. “Betul, pengalaman saya di sekolah juga begitu,” timpal Trisno.

Kelompok diskusi itu lalu menyusun langkah-langkah antisipasi untuk menepis ganjalan psikologis itu. “Di antaranya,” usul Yusuf Z. Abidin, DT Sukabumi, “kita lebih tampil egaliter sebagai sejawat yang hendak bekerjasama meningkatkan kapasitas masing-masing sebagai guru.”

Sementara itu, Fitri, DT Banten, meyakini bahwa hambatan psikologis itu hanya dirasakan oleh sebagian kecil guru. “Sebagian besar guru di sekolah target sudah memahami posisi mereka dalam konteks kegiatan tindak-lanjut,” paparnya.

Sebab itu, lanjutnya, soal ganjalan psikologis tidak menjadi masalah besar dalam kegiatan follow up. “Guru bahkan merasa butuh dukungan para fasilitator dalam meningkatkan pembelajaran yang lebih bermutu,” tandasnya lagi.***