HOME:HALAMAN UTAMA
  Mitra Didaktika (Juli-09)
    
  
 Berita & Artikel
  
 Informasi Baru
 Mengenai Kami
 100 Kunjungan Terakhir
  

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  

 Warta Utama

Halaman 3 


KTL Tilai Kinerja Kecakapan Hidup

Sejumlah siswa tampak sedang berdiskusi di tengah proses pembelajaran. Nisa tampak dominan dan menguasai forum. Sebaliknya, Reza cenderung pasif dan menjadi pendengar yang baik. Akmal tampak hanya bicara pada saat perlu saja. Ada yang bicara dengan argumen memadai, tapi ada pula yang cenderung berpikir dangkal. Demikianlah diskusi kelompok berjalan sesuai dengan kinerja kecakapan masing-masing siswa.

Di luar diskusi kelompok ini, para peserta lokakarya KTL mengamati dengan seksama. Mereka mencoba menilai kecakapan hidup masing-masing siswa yang terlibat dalam diskusi tersebut. Di tangan mereka terdapat borang penilaian berupa rubrik-rubrik kecakapan hidup. Mereka mengukur tingkat ketajaman analisis masalah dan solusi yang ditawarkan oleh masing-masing siswa.

Ada siswa yang mampu menganalisis masalah secara mendalam sehingga menemukan akar masalah. Ada juga siswa yang jangkauan berpikirnya masih pendek dan sederhana. Solusi yang ditawarkan oleh siswa pertama ternyata lebih strategis, sementara solusi tawaran siswa kedua cenderung dangkal dan parsial.

Demikianlah simulasi penilaian kinerja kecakapan hidup yang berlangsung dalam workshop kegiatan tindak-lanjut. Pada proses kegiatan tindak-lanjut di sekolah kelak, penilaian kinerja lifeskills ini merupakan salah bagian penting.

Penilaian kinerja kecakapan hidup siswa ini akan menjadi bahan untuk mengukur tingkat keberhasilan guru dalam memandu pembelajaran. Pada gilirannya, mutu praktek pembelajaran ini juga bisa menjadi alat ukur tersendiri untuk menakar keberhasilan program DBE3 secara keseluruhan, khususnya program pelatihan guru.***

Tim Jabar-Banten tengah membahas penilaian kinerja kecakapan hidup pada workshop KTL di Jakarta

Sejumlah peserta memerankan siswa untuk memberi kesempatan peserta lain menilai kinerja lifeskills-nya



Dalam Konteks KTL
Pendamping Guru adalah Fasilitator bukan Supervisor

Menyadari bahwa kegiatan tindak-lanjut itu merupakan bagian integral dari pelatihan guru, para pendamping memahami peran mereka lebih sebagai fasilitator ketimbang supervisor. “Saya siap menanggalkan jabatan saya sebagai koordinator pengawas (korwas) Propinsi Banten untuk menjadi fasilitator kegiatan tindak-lanjut di sekolah mitra DBE3,” ujar H. Fathoni.

Memang sebetulnya tugas-tugas kepengawasan juga bisa berjalan lebih sebagai pendampingan. Namun demikian, sejauh ini kegiatan supervisi lebih terasa “seram” dan menakutkan para guru. Para guru cenderung merasa berat untuk berhadapan dengan supervisor pendidikan, yang di banyak tempat lebih dikenal sebagai penilik.

“Maka, pada kegiatan tindak-lanjut DBE3, para DT, kepala sekolah, pengawas pendidikan, dan widyaiswara menata dirinya untuk tampil lebih sebagai fasilitator yang mengayomi guru dalam upaya peningkatan kapasitasnya,” ujar Yeti Heryati, DC DBE3.

DT, dosen, pengawas, kepsek, dan widyaiswara ini tampil menjadi fasilitator yang mengayomi bukan supervisor yang mengawasi.

Para DT ini sedang merancang peran yang bisa mereka mainkan sebagai fasilitator kegiatan tindak-lanjut.

Menurutnya, fasilitator kegiatan tindak-lanjut berperan sebagai mitra para pendidik untuk mengintegrasikan life skills ke dalam proses pembelajaran mata pelajaran masing-masing. “Bagi saya, sesungguhnya peran sebagai fasilitator ini terasa lebih rileks, ringan, dan nyaman bagi guru,” ungkap Enjang, DT Subang. “Guru sendiri lebih memperlakukan kita sebagai sejawat mereka,” imbuhnya.

Dengan demikian, sebenarnya peran sebagai fasilitator itu memiliki nilai lebih ganda: di satu pihak, ia lebih diterima oleh guru sebagai mitra atau sejawat dan, di pihak lain, ia lebih terasa ringan dan tidak membebani bagi pendamping. “Dengan peran fasilitator, semoga kunjungan tindak-lanjut lebih efektif mendukung keberhasilan program DBE3,” harap Hera, fasilitator workshop KTL.***

Guru memperlakukan fasilitator lebih sebagai sejawat