HOME:HALAMAN UTAMA
  Mitra Didaktika (Juli-09)
    
  
 Berita & Artikel
  
 Informasi Baru
 Mengenai Kami
 100 Kunjungan Terakhir
  

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  

 Warta Utama

Halaman 4 

Partisipasi MGMP, PT, dan LPMP dalam KTL

Selain melibatkan kepala sekolah dan pengawas pendidikan, Kegiatan Tindak Lanjut (KTL) juga kini melibatkan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Perguruan Tinggi (PT), dan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP). “Maka, lokakarya kegiatan tindak-lanjut baru-baru ini juga melibatkan ketiga unsur tersebut,” papar Asep S. Muhtadi, PC DBE3 Jabar-Banten.

Dua widyaiswara LPMP Banten ini aktif memberikan kontribusi dalam lokakarya kegiatan tindak-lanjut di Propinsi Banten.

Endo Kosasih (MGMP Subang) tengah presentasi hasil diskusi kelompok dalam lokakarya kegiatan tindak-lanjut di Bandung.

Menurutnya, ini sejalan dengan teacher training yang juga melibatkan tiga unsur pengusung pendidikan itu.

Lokakarya kegiatan tindak-lanjut tingkat Propinsi Banten maupun Jawa Barat memang dihadiri oleh koordinator MGMP, dosen perguruan tinggi, dan widyaiswara LPMP. “Saya tertarik dengan Follow up Activity Workshop ini karena menawarkan pendekatan baru dalam hal pendampingan guru,” ujar Endo Kosasih, koordinator MGMP Bahasa Inggris Kabupaten Subang.

Hal ini kemudian dibenarkan oleh Edi Badrisyeh, koordinator MGMP PKn Subang. “Khususnya, saya tertarik dengan pola penilaian kinerja kecakapan hidup siswa,” ucapnya. Edi mengaku cara-cara penilaian kecakapan hidup itu sebagai sesuatu yang baru diketahuinya.

Senada dengan mereka, Rahmi, dari LPMP Banten, juga juga mengaku tertarik dengan model-model kegiatan tindak-lanjut DBE3. “Cara-cara pendampingan guru ini akan sangat membantu guru meningkatkan kualitas pembelajaran,” ujarnya penuh keyakinan.***

Follow up Activity Workshop bukan Lokakarya Biasa

Para District Trainer sudah beberapa kali mengikuti lokakarya kegiatan tindak-lanjut. Mereka mengikutinya setiap usai pelatihan guru, sejak paket modul dasar (1-3), modul 4-5, modul 6-7, dan serangkaian toolkit. Kala itu, workshop biasanya berlangsung satu hari dan melibatkan hanya para DT. Sesi-sesinya pun terbatas dan hampir tidak melibatkan simulasi.

“Lokakarya sekarang ini tidak biasa,” ujar Awaluddin, DT Subang. Lebih jauh, Awal mengatakan, ketidakbiasaan itu terasa dari durasinya yang menjadi dua hari, materinya yang lebih bervariasi, dan keterlibatan berbagai pihak di luar District Trainer.

Taufik dan peserta worksop dari Subang tengah merancang penelitian tindakan kelas dalam rangka kegiatan follow up.

Sugeng (paling kanan) menyambut baik perubahan frekuensi dan variasi kegiatan tindak-lanjut

Selain itu, pengelolaan workshop kegiatan tindak-lanjut ini juga melibatkan simulasi dan permainan peran sehingga membuat lokakarya ini menjadi identik dengan pelatihan guru dari segi metode dan prosesnya. “Berbeda dari sebelumnya, lokakarya kegiatan tindak-lanjut ini tidak terbatas pada penyusunan rencana tindak lanjut (RTL) yang lebih bersifat musyawarah,” kata Taufik, DT Subang.

Ketidakbiasaan workshop kegiatan tindak lanjut ini menjadi semacam angin segar bagi para DT untuk bisa lebih berperan dalam memelihara dampak program DBE3 di sekolah. “Saya menyambut baik perubahan ini sambil berharap semoga kegiatan tindak-lanjut lebih optimal lagi,” ucap Sugeng, DT Lebak. Tampaknya, para DT memaknai ketidakbiasaan lokakarya follow up activity tersebut sebagai sebuah isyarat perbaikan untuk memaksimalkan manfaat kegiatan tindak-lanjut.***