HOME:HALAMAN UTAMA
  Berita dari Sul-Sel
  
 Berita Dari Lapangan
 Mengenai Kami
 100 Kunjungan Terakhir
  

  
 Login
  
Login:
Pass:
Register?
  

 Kolom

Halaman 11 


Guru Konvensional vs Guru Kontemporer

Salah satu faktor penentu keberhasilan proses pembelajaran adalah seberapa besar kualitas proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan. Seberapa besar ruang yang dikreasi guru untuk potensi siswa. Meskipun selama ini, sebagian guru beranggapan bahwa faktor utama keberhasilan pendidikan terletak pada sarana dan prasarana pendidikan yang lengkap, canggih dan berkualitas. Asumsi mereka, pendidikan tidak akan berjalan tanpa sarana dan prasaran pendidikan yang lengkap.

Hingga saat ini, tidak sedikit guru berpegang teguh pada paham guru sebagai pengajar menjadi sumber segala pengetahuan yang akan diterima dan diketahui oleh peserta Teaching Center). didik ( Paham ini diyakini oleh guru konvensional yang belum menerima perubahan paradigma pembelajaran kontemporer Guru yang mengajar siswa bagaimana belajar (menemukan), bekerjasama dalam kelompok, melibatkan siswa berpikir kritis dan analitis, membimbing kreatifitas siswa, mengekspressikan karya-karyanya merupakan ciri guru kontemporer.

Budiman,S.Pd Tipe guru semacam inilah yang mampu melejitkan perkembangan kacakapan hidup (life skill) siswa. Dalam kegiatannya mentransformasi karakter guru konvensional ke guru kontemporer, DBE3 membuka ruang pelatihan bagi guru, kepala sekolah, pengawas, serta staf kependidikan yang ada di Diknas dan Depag. Konten pelatihan DBE3 sama sekali tidak menafikan

metode pembelajaran klasikal, melainkan menguatkannya lalu mereposisi peran guru sebagai fasilitator dan motivator pembelajaran. Agar guru dapat melakonkan peran ini, D B E 3 m e l a t i h k a n bagaimana seorang g u r u m e n c i p t a k a n pembelajaran aktif yang berintikan cooperative learning (pembelajaran kooperatif), mendorong siswa menyelesaikan masalah, merangsang siswa berpikir tingkat tinggi, lalu menyemangati siswa dengan mengapresiasi karya-karyanya.

DBE3 mengantarkan muatan pembelajaran bermakna ini dalam bingkai pengajaran dan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and learning).

Adaptasi dari tulisan Budiman, S.Pd
Guru SMPN 3 Tellu Limpoe, Sidrap

Tantu: “Penting Guru Memberikan Siswa Pertanyaan Tingkat-Tinggi”

Guru menciptakan pembelajaran yang menantang, siswa mengungkapkan pendapatnya sendiri baik secara personal maupun berkelompok dalam pembelajaran, pajangan karya siswa menjadi sumber belajar adalah muatan dari pembelajaran aktif. “Tapi, oleh-oleh berharga dari pelatihan BTL2 DBE3 kali ini, ada bagian penting dari pembelajaran aktif itu yang mutlak dilatihkan siswa, yakni pertanyaan tingkat-tinggi.” Ujar Tantu, S.Pd.,M.Si., Kepala SMPN 1 Lilirilau kabupaten Soppeng itu seusai mengikuti pelatihan di gedung Aisyiyah Watan Soppeng (9-11Juni).

Tantu, S.Pd, M.si, Kasek SMPN 1 Lilirilau Kab. Soppeng

Ia menyadari betul bahwa untuk membuat siswa berpikir analitis, kritis medan kreatif menjadi tanggung jawab guru. Jenis pertanyaan yang diajukan guru sangat berpengaruh terhadap perkembangan keterampilan berpikir siswa. Karena itu, dia menambahkan “saat ini penting guru memberikan siswa pertanyaan Tingkat-Tinggi.” Ia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pertanyaan “tingkat- tinggi” adalah suatu pertanyaan yang tidak tertutup pada jawaban tunggal ‘ya’ atau ‘tidak’ saja.

Guru kreatif adalah guru yang mampu mengidentifikasi kata kerja operasional yang dipakai untuk menanyakan ide atau gagasan siswa. “Insya Allah ke depan, saya akan memberikan kesempatan kepada guru- guru yang belum mengikuti pelatihan ini agar bisa juga mengikuti pelatihan BTL2 melalui skema replikasi. Saya ingin sekali berlatih bersama dengan guru-guru merumuskan pertanyaan “tingkat-tinggi.” Ujarnya bersemangat.(ML)

Praktek Mengajar BTL2: Siswa SMPN 1Watansoppeng bekerja kelompok difasilitasi guru peserta pelatihan


 PANRITA Warta Inovasi Pembelajaran di Sulawesi Selatan

Juli 2009