Guru Konvensional vs Guru Kontemporer
Salah satu faktor penentu keberhasilan proses pembelajaran
adalah seberapa besar kualitas proses belajar mengajar yang
telah dilaksanakan. Seberapa besar ruang yang dikreasi guru
untuk potensi siswa. Meskipun selama ini, sebagian guru
beranggapan bahwa faktor utama keberhasilan pendidikan
terletak pada sarana dan prasarana pendidikan yang lengkap,
canggih dan berkualitas. Asumsi mereka, pendidikan tidak
akan berjalan tanpa sarana dan prasaran pendidikan yang
lengkap.
Hingga saat ini, tidak sedikit guru berpegang teguh pada
paham guru sebagai pengajar menjadi sumber segala
pengetahuan yang akan diterima dan diketahui oleh peserta
Teaching Center). didik ( Paham ini diyakini oleh guru
konvensional yang belum menerima perubahan paradigma
pembelajaran kontemporer Guru yang mengajar siswa bagaimana belajar
(menemukan), bekerjasama dalam kelompok, melibatkan
siswa berpikir kritis dan analitis, membimbing kreatifitas
siswa, mengekspressikan karya-karyanya merupakan ciri
guru kontemporer.
Tipe guru semacam inilah yang mampu
melejitkan perkembangan kacakapan hidup (life skill) siswa.
Dalam kegiatannya mentransformasi karakter guru
konvensional ke guru kontemporer, DBE3 membuka ruang
pelatihan bagi guru, kepala sekolah, pengawas, serta staf
kependidikan yang ada di Diknas dan Depag.
Konten pelatihan DBE3 sama sekali tidak menafikan
metode pembelajaran klasikal, melainkan menguatkannya lalu mereposisi peran guru sebagai fasilitator dan motivator pembelajaran. Agar guru dapat melakonkan peran ini, D B E 3 m e l a t i h k a n bagaimana seorang g u r u m e n c i p t a k a n pembelajaran aktif yang berintikan cooperative learning (pembelajaran kooperatif), mendorong siswa menyelesaikan masalah, merangsang siswa berpikir tingkat tinggi, lalu menyemangati siswa dengan mengapresiasi karya-karyanya.
DBE3 mengantarkan muatan pembelajaran bermakna ini dalam bingkai pengajaran dan pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching and learning).
Adaptasi dari tulisan Budiman, S.Pd Guru SMPN 3 Tellu Limpoe, Sidrap
|
Tantu: “Penting Guru Memberikan Siswa
Pertanyaan Tingkat-Tinggi”
Guru menciptakan pembelajaran yang menantang, siswa mengungkapkan
pendapatnya sendiri baik secara personal maupun berkelompok dalam
pembelajaran, pajangan karya siswa menjadi sumber belajar adalah muatan dari
pembelajaran aktif. “Tapi, oleh-oleh berharga dari pelatihan BTL2 DBE3 kali
ini, ada bagian penting dari pembelajaran aktif itu yang mutlak dilatihkan siswa,
yakni pertanyaan tingkat-tinggi.” Ujar Tantu, S.Pd.,M.Si., Kepala SMPN 1
Lilirilau kabupaten Soppeng itu seusai mengikuti pelatihan di gedung Aisyiyah Watan Soppeng (9-11Juni).
|
Tantu, S.Pd, M.si, Kasek
SMPN 1 Lilirilau Kab.
Soppeng
|
Ia menyadari betul bahwa untuk membuat siswa berpikir analitis, kritis medan
kreatif menjadi tanggung jawab guru. Jenis pertanyaan yang diajukan guru sangat
berpengaruh terhadap perkembangan keterampilan berpikir siswa. Karena itu, dia menambahkan “saat ini penting guru memberikan siswa pertanyaan Tingkat-Tinggi.” Ia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pertanyaan “tingkat- tinggi” adalah suatu pertanyaan yang tidak tertutup pada jawaban tunggal ‘ya’ atau ‘tidak’ saja.
Guru kreatif adalah guru yang mampu mengidentifikasi kata kerja operasional yang dipakai untuk menanyakan ide atau gagasan siswa. “Insya Allah ke depan, saya akan memberikan kesempatan kepada guru- guru yang belum mengikuti pelatihan ini agar bisa juga mengikuti pelatihan BTL2 melalui skema replikasi. Saya ingin sekali berlatih bersama dengan guru-guru merumuskan pertanyaan “tingkat-tinggi.” Ujarnya bersemangat.(ML)
|
Praktek Mengajar BTL2: Siswa SMPN
1Watansoppeng bekerja kelompok
difasilitasi guru peserta pelatihan
|
|
|
PANRITA Warta Inovasi Pembelajaran di Sulawesi Selatan
|
Juli 2009
|
|