|
Supri Harahap : Berprestasi karena Rajin Berinovasi
|
Pak Supri Harahap adalah guru terbaik Indonesia untuk tahun 2009. Beliau meraih peringkat pertama dalam ajang pemilihan guru berprestasi tingkat nasional. Tulisan di bawah ini adalah jawaban Pak Supri Harahap atas pertanyaan editor. Pak Supri menulis lewat gaya khas melayu dengan runtutan cerita yang apik. Lugas, sederhana dan menggugah. Dia memperkenalkan dirinya dengan baik. Hanya keterbatasan halamanlah, yang membuat saya dengan tidak rela harus memenggal separuhnya.
>> Erix Hutasoit (Editor)
|
EH: Alasan menjadi guru?
Agar cepat bekerja. Keluarga saya tinggal di desa kecil dan miskin. Adik saya 5 orang. Saya anak sulung. Harapan ayah saya segera bisa bekerja jika tamat sekolah lanjutan. Jalan tersingkat adalah SPG. Saya bisa melanjut SPG di Medan karena kepala sekolah saya yang baik hati itu. Beliau memasukkan nama saya sebagai penerima beasiswa supersemar. Mendengar kisah saya, kepala sekolah bersimpati.
Rapor saya juga bagus, di semester I kelas I langsung juara I untuk semua kalas I yang 10 kelas. Sejak itulah saya didaftarkannya menjadi penerima beasiswa Supersemar. Ketika menerima uangnya untuk 10 bulan, semua saya gunakan membeli bahan untuk jualan. Tekad saya, ibu bisa berjualan keperluan orang kampong sehari-hari. Apalagi di kampong kami tak ada orang berjualan. Kuajak teman pulang kampong membawa bahan jualan. Kami berjalan 10 km lewat sawah setelah turun dari bis di Pargumbangan.
Pukul 3 sore, saya dan teman tiba di sawah kami. Dari jauh, ibu telah melihat kepulangan saya yang penuh beban. Ia berhenti mencangkul dan berbincang dengan ayah. Setelah sampai di dangau, keduanya bergegas mendekat. Saya ceritakan semuanya. Ibu saya bercucur air mata. Ayah saya lebih banyak diam, tapi saya tahu ia sangat haru. Sisa uang dalam amplop kuserahkan kepada ibu. Ia mencium amplop itu dan terus berderai air matanya. “Kita belum pernah menerima uang sebanyak ini,” kata ibu sambil melap air matanya.
Saya rasa itulah kali pertama saya membahagiakan orangtua. Di tahun ketiga, masih tersisa uang beasiswa. Itulah yang saya gunakan berangkat ke Medan dan mendaftar ke IKIP dan mengikuti seleksi Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (Sipenmaru). Syukur, saya lulus seleksi.
EH : Mengapa memilih jurusan sastra Indonesia?
Waktu di Sidempuan saya suka menulis. Menulis cerita film di buku tulis tebal yang sengaja saya beli untuk menulis semua film yang saya tonton. Awalnya adalah film Puspa Indah Taman Hati dan Gita Cinta dari SMA . Novelnya ditulis Dedy D Iskandar dan saya terbuai membacanya. Saya ingin menjadi pengarang novel.
Dan niat itu akhirnya saya dapatkan, ketika pertama kali saya menulis novel “Sekali Peristiwa di Kampung Dolok” . Itu cerita dijadikan harian Analisa menjadi naskah cerita bersambung (cerbung). Kejadiannya tahun 1989. Saya juga menulis cerpen di berbagai surat kabar dan majalah Anita Cemerlang.
Majalah Aneka menyuruh saya menulis untuk rubrik Dinding Sekolah. Uangnya saya gunakan membeli baju baru dan sepatu sebab saya jarang bisa membelinya. Honor tulisan rupanya bisa membahagiakan saya.
|
Ketika libur saya jalan sampai ke Yogya dengan menenteng mesin tik merek Olimpitte yang diberikan Alfian Arbie (alm). Mesin tik itu diberi karena saya menang lomba karya tulis tentang CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif). Lomba itu diselenggarakan penerbit Madju yang memang benar-benar maju saat itu.
EH : Karier sbg Guru?
Saya lulus kuliah tahun 1990. Masa kuliah 6 tahun. Lama. Karena saya harus membiayai sendiri. Jika ada ujian mitsemester di kampus, saya ada tugas mengawas Ebtanas di sekolah, maka yang saya pilih mengawas. Kuliahnya jadi lamban. Tahun 1989 saya diminta mengajar di swasta yang bagus di Medan. Saya dengan senang hati menerimanya. Sembilan tahun mengajar di sini, kemudian diterima jadi CPNS. Di satu sisi saya bahagia, di satu sisi yang lain saya merana. Saya harus meninggalkan anak dan istri karena penempatannya di Nias (SMP Negeri 1 Idanogawo). Itu tahun 1998. Menikah tahun 1993.
Awal tahun 2001, saya bisa mutasi ke SMP Negeri 8 Medan. Dan kembali mengajar di sekolah swasta yang saya tinggalkan dulu. Sejak tahun 2002 saya mulai terlibat dalam pelatihan (ToT) pembelajaran Kontekstual yang diselenggarakan Direktorat Pembinaan SMP. Saya juga ikut Pelatihan Terintegrasi Berbasis Kompetensi yang juga diadakan direktorat yang sama. Sejak tahun 2002 saya juga mulai mengikuti lomba yang diadakan Depdiknas. Sejak itulah hampir tiap tahun saya ke Jakarta sebagai finalis berbagai lomba yang saya ikuti.
Tahun 2007 karya saya meraih peringkat 1 tingkat nasional. Waktu itu peserta lomba adalah kumpulan para lomba mulai tahun 2001. Tahun 2008 saya turun di peringkat 5 nasional. Tapi tahun 2009, saya kembali meraih peringkat 1 Guru Berprestasi Tingkat Nasional. Inilah titik kulminasi lomba untuk guru di negeri ini..
EH : Profesi Guru?
Ini tugas yang tidak mudah. Merancang pembelajaran itu profesi yang sangat menantang tapi melelahkan. Nonsens (omong kosong – red) pengalaman mengajar puluhan tahun sekaligus, bisa menunjukkan seorang guru professional menjalankan tugasnya. Banyak guru senior selalu enggan jika bicara soal mempersiapkan pembelajaran.
Mereka tampil dari waktu ke waktu dengan pola yang sama dari metode yang itu ke itu juga. Lihat betapa banyaknya guru yang gagal di uji portofolio untuk mendapatkan sertifikat pendidik. Tugas p0kok dan fungsi guru adalah merancang, melaksanakan dan mengevaluasi pembelajaran.
Itu tidak semudah mengatakannya. Tapi jika saya mampu membuat pembelajaran baru dari metode pembelajran yang saya pelajari, itu luar biasa melegakan.
EH: Pelatihan DBE3?
DBE3 adalah inspirasi buat saya. Di sini saya menemukan berbagai hal menyangkut profesi mengajar. Bagaimana guru menjadi penulis skenario, menjadi sutradara para pemain beraksi, berinteraksi, saling koreksi menjadi bagian yang terpenting dalam pelatihan.
Di sini saya diasah untuk menjadi tenaga profesional. Mulai dari merancang setting kelas, mendesain model pembelajaran, menciptakan hubungan sosial yang saling mengisi antarsiswa, menciptakan pertanyaan level tinggi, semuanya bersinergi untuk pengalaman belajar yang berkualitas.*)
|