|
BARTIMEUS SINUARAYA, S.Pd. Ing
bartimeus.sinuraya@yahoo.com
Guru SMP Negeri 3 Sidikalang cum Distrik Fasilitator DBE 3
|
SISWA SERING dipandang kurang proporsional. Mereka dianggap tidak tahu dan tidak mampu mengerjakan banyak hal. Anggapan seperti ini berimbas pada perlakukan tidak adil yang diterima oleh siswa. Akibatnya perkembangan intelektual siswa terhambat, kemampuan analisisnya terbatasi dan daya evaluasi-kreasinya tidak berkembang. Dr. Wina Sanjaya, M.Pd menulis, ”...siswa bukanlah manusia dalam ukuran mini, akan tetapi manusia yang sedang dalam tahap perkembangan; setiap manusia mempunyai kemampuan yang berbeda; anak didik pada dasarnya adalah insan yang aktif, kreatif dan dinamis. ...”
Menurut saya, keunikan siswa terletak pada poin itu. Siswa memiliki embrio talenta dan bakat yang tersembuyi. Jika dirangsang, embrio itu bisa muncul secara luar biasa. Bahkan jauh dari apa yang kita duga. Salah satu faktor dominan yang mempengaruhi keaktifan belajar siswa adalah rangsangan (pancingan). Lewat rangsangan atau pancingan, siswa menjadi aktif berfikir. Salah satunya lewat pertanyaan tingkat tinggi. Pendekatan inilah yang didalami penulis selama menjadi fasilitator untuk pelatihan Better Teaching Learning-2 (BTL 2).
Pertanyaan tingkat tinggi tidak selamanya datang dari guru, tetapi juga bisa dari sesama siswa. Pertanyaan tersebut dapat disimulasikan dalam sebuah model yang saya sebut ”Simulasi Berorientasi Aktifitas Siswa” (SISIAKSI).
SISIAKSI SEBAGAI INOVASI
SISIAKSI adalah inovasi sistem pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Dari model ini, ada dua indikasi positif yang berhasil saya tangkap: Pertama, meningkatnya semangat belajar siswa. Siswa semakin giat menambah jam belajarnya, sekalipun dia tidak berada di sekolah. Perubahan ini tidak hanya dirasakan oleh siswa, tetapi juga dirasakan oleh orangtua. Tidak sekali orangtua datang kesekolah untuk menyatakan keherannyan terhadap peningkatan semangat belajar si anak.
Kedua, terjadinya peningkatan kualitas siswa. Salah satu indikatornya adalah semakin banyaknya siswa yang masuk ke kelas unggulan. Ketika penulis memulai praktek SISIAKSI di kelas VII-7 pada tahun 2007/2008, tujuh siswa dari kelas ini berhasil masuk kelas IX-1 (kelas unggulan). Ketika itu jumlah siswa kelas VII di SMP Negeri 3 Sidikalang adalah 284 orang. Sedangkan siswa yang diterima untuk kelas XI-1 hanya 40 orang.
|
BAGAIMANA KERJANYA?
Pada prinsipnya SISIAKSI adalah model belajar bersama. Siswa belajar dari siswa lainnya. Metode kerjanya dengan membagi siswa kedalam beberapa kelompok mata pelajaran. Masing-masing kelompok beranggotakan sepuluh orang siswa. Sepuluh orang siswa ini kemudian bekerjasama untuk membuat soal-soal yang akan diujikan kepada siswa sekelasnya. Soal-soal yang dibuat harus mengacu pada topik yang sudah dipelajari. Pada proses ini, anggota kelompok berinovasi dan berkreasi untuk membuat soal yang menantang bagi siswa lainnya.
Proses ini bergulir pada setiap mata pelajaran. Selain itu, siswa juga belajar untuk berkompetisi dengan baik. Siswa yang membuat soal berupaya membuat soal sesulit mungkin. Sedangkan siswa yang mengerjakan soal, berusaha mematahkan kerumitan soal itu. Logika sederhana proses ini adalah jika soal yang rumit sudah bisa dikerjakan, maka soal-soal lainnya akan pastinya menjadi lebih mudah. Kesimpulan datang karena siswa telah berlatih untuk menyelesaikan soal-soal yang rumit. Di sinilah proses pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarsiswa berlangsung.
DAMPAK LAIN
Karena SISIAKSI selalu diadakan sebelum ulangan harian, maka dampaknya nilai siswa berada di atas rata-rata, khususnya pada mapel yang disimulasikan. Kebanggaan lain dari SMP Negeri 3 Sidikalang adalah 3 (tiga) orang siswa kelas IX-1 lulus seleksi masuk di SMA Plus Soposurung Balige *).
Tentunya hal tersebut bukan hanya karena SISIAKSI, tetapi kemampuan dan kemauan guru-guru untuk menerapkan PAKEMI hasil pelatihan dari DBE3. Keberhasilan sejurus dengan petuah bijak Bobbi De Porter & Mike Hernachi dalam Quantum Learning yang menulis," ...terobosan-terobosan terjadi (lahir-red), baik dalam tantangan yang bersifat fisik maupun mental.”
PENUTUP
Dengan kegiatan SISIAKSI diharapkan dapat membina kecakapan sosial dan akademik siswa. Pengertian kecakapan sosial menurut tim konsultan Modul Pelatihan yang berjudul Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna 2 adalah: ”untuk membantu anak untuk menjadi siswa yang efektif dan untuk mengembangkan kecakapan yang diperlukan untuk sukses dalam pendidikan yang lebih tinggi dan lingkungan profesional seperti kecakapan meneliti, memecahkan masalah dan teknologi ”.
(Tim Konsultan Modul Pelatihan yang ,Pengajaran Profesional dan Pembelajaran Bermakna 2, Jakarta, 2009, halaman 12). Keinginan untuk ikut ambil bagian mengupayakan keaktifan siswa dalam belajarnya, kiranya boleh dibagi dan dikaji lebih lanjut. ***
*) SMA Plus Soposurung didirikan tahun 1990 oleh Mayjend (purn) T.B Silalahi. Sekolah ini menjadi SMA unggulan dan merekrut siswa SMP terbaik di Sumatera Utara setiap tahunnya.
|